15 June 2015

Sejarah Perkembangan Islam di Negara Negara Asia Tenggara

1.      INDONESIA
A.    Masuknya islam ke indonesia
Ketika Islam datang di Indonesia, berbagai agama dan kepercayaan seperti animisme, dinamisme, Hindu dan Budha, sudah banyak dianut oleh bangsa Indonesia bahkan dibeberapa wilayah kepulauan Indonesia telah berdiri kerajaan-kerajaan yang bercorak Hindu dan Budha. Misalnya kerajaan Kutai di Kalimantan Timur, kerajaan Taruma Negara di Jawa Barat, kerajaan Sriwijaya di Sumatra dan sebagainya. Namun Islam datang ke wilayah-wilayah tersebut dapat diterima dengan baik, karena Islam datang dengan membawa prinsip-prinsip perdamaian, persamaan antara manusia (tidak ada kasta), menghilangkan perbudakan dan yang paling penting juga adalah masuk kedalam Islam sangat mudah hanya dengan membaca dua kalimah syahadat dan tidak ada paksaan. 
Tentang kapan Islam datang masuk ke Indonesia, menurut kesimpulan seminar “ masuknya Islam di Indonesia” pada tanggal 17 s.d 20 Maret 1963 di Medan, Islam masuk ke Indonesia pada abad pertama hijriyah atau pada abad ke tujuh masehi. Menurut sumber lain menyebutkan bahwa Islam sudah mulai ekspedisinya ke Nusantara pada masa Khulafaur Rasyidin (masa pemerintahan Abu Bakar Shiddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib), disebarkan langsung dari Madinah.
Islam masuk ke Indonesia, bukan dengan peperangan ataupun penjajahan. Islam berkembang dan tersebar di Indonesia justru dengan cara damai dan persuasif berkat kegigihan para ulama. Karena memang para ulama berpegang teguh pada prinsip Q.S. al-Baqarah ayat 256 : 
Artinya : 
Tidak ada paksaan dalam agama (Q.S. al-Baqarah ayat 256)
B.     Cara masuk islam ke indonesia
Adapun cara masuknya Islam di Indonesia melalui beberapa cara antara lain ; 
1. Perdagangan
Jalur ini dimungkinkan karena orang-orang melayu telah lama menjalin kontak dagang dengan orang Arab. Apalagi setelah berdirinya kerajaan Islam seperti kerajaan Islam Malaka dan kerajaan Samudra Pasai di Aceh, maka makin ramailah para ulama dan pedagang Arab datang ke Nusantara (Indonesia). Disamping mencari keuntungan duniawi juga mereka mencari keuntungan rohani yaitu dengan menyiarkan Islam. Artinya mereka berdagang sambil menyiarkan agama Islam.

2. Kultural
Artinya penyebaran Islam di Indonesia juga menggunakan media-media kebudayaan, sebagaimana yang dilakukan oleh para wali sanga di pulau jawa. Misalnya Sunan Kali Jaga dengan pengembangan kesenian wayang. Ia mengembangkan wayang kulit, mengisi wayang yang bertema Hindu dengan ajaran Islam. Sunan Muria dengan pengembangan gamelannya. Kedua kesenian tersebut masih digunakan dan digemari masyarakat Indonesia khususnya jawa sampai sekarang. Sedang Sunan Giri menciptakan banyak sekali mainan anak-anak, seperti jalungan, jamuran, ilir-ilir dan cublak suweng dan lain-lain.

3. Pendidikan 
Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan yang paling strategis dalam pengembangan Islam di Indonesia. Para da’i dan muballig yang menyebarkan Islam diseluruh pelosok Nusantara adalah keluaran pesantren tersebut. Datuk Ribandang yang mengislamkan kerajaan Gowa-Tallo dan Kalimantan Timur adalah keluaran pesantren Sunan Giri. Santri-santri Sunan Giri menyebar ke pulau-pulau seperti Bawean, Kangean, Madura, Haruku, Ternate, hingga ke Nusa Tenggara. Dan sampai sekarang pesantren terbukti sangat strategis dalam memerankan kendali penyebaran Islam di seluruh Indonesia.

4. Kekuasaan politik
Artinya penyebaran Islam di Nusantara, tidak terlepas dari dukungan yang kuat dari para Sultan. Di pulau Jawa, misalnya keSultanan Demak, merupakan pusat dakwah dan menjadi pelindung perkembangan Islam. Begitu juga raja-raja lainnya di seluruh Nusantara. Raja Gowa-Tallo di Sulawesi selatan melakukan hal yang sama sebagaimana yang dilakukan oleh Demak di Jawa. Dan para Sultan di seluruh Nusantara melakukan komunikasi, bahu membahu dan tolong menolong dalam melindungi dakwah Islam di Nusantara. Keadaan ini menjadi cikal bakal tumbuhnya negara nasional Indonesia dimasa mendatang.
C.    Perkembangan Islam di Beberapa Wilayah Nusantara
1. Di Sumatera
Kesimpulan hasil seminar di Medan tersebut di atas, dijelaskan bahwa wilayah Nusantara yang mula-mula dimasuki Islam adalah pantai barat pulau Sumatra dan daerah Pasai yang terletak di Aceh utara yang kemudian di masing-masing kedua daerah tersebut berdiri kerajaan Islam yang pertama yaitu kerajaan Islam Perlak dan Samudra Pasai.
Menurut keterangan Prof. Ali Hasmy dalam makalah pada seminar “Sejarah Masuk dan Berkembangnya Islam di Aceh” yang digelar tahun 1978 disebutkan bahwa kerajaan Islam yang pertama adalah kerajaan Perlak. Namun ahli sejarah lain telah sepakat, Samudra Pasailah kerajaan Islam yang pertama di Nusantara dengan rajanya yang pertama adalah Sultan Malik Al-Saleh (memerintah dari tahun 1261 s.d 1297 M). Sultan Malik Al-Saleh sendiri semula bernama Marah Silu. Setelah mengawini putri raja Perlak kemudian masuk Islam berkat pertemuannya dengan utusan Syarif Mekkah yang kemudian memberi gelar Sultan Malik Al-Saleh.
Kerajaan Pasai sempat diserang oleh Majapahit di bawah panglima Gajah Mada, tetapi bisa dihalau. Ini menunjukkan bahwa kekuatan Pasai cukup tangguh dikala itu. Baru pada tahun 1521 di taklukkan oleh Portugis dan mendudukinya selama tiga tahun. Pada tahun 1524 M Pasai dianeksasi oleh raja Aceh, Ali Mughayat Syah. Selanjutnya kerajaan Samudra Pasai berada di bawah pengaruh keSultanan Aceh yang berpusat di Bandar Aceh Darussalam (sekarang dikenal dengan kabupaten Aceh Besar).
Munculnya kerajaan baru di Aceh yang berpusat di Bandar Aceh Darussalam, hampir bersamaan dengan jatuhnya kerajaan Malaka karena pendudukan Portugis. Dibawah pimpinan Sultan Ali Mughayat Syah atau Sultan Ibrahim kerajaan Aceh terus mengalami kemajuan besar. Saudagar-saudagar muslim yang semula berdagang dengan Malaka memindahkan kegiatannya ke Aceh. Kerajaan ini mencapai puncak kejayaannya pada masa pemerintahan Iskandar Muda Mahkota Alam ( 1607 - 1636).
Kerajaan Aceh ini mempunyai peran penting dalam penyebaran Agama Islam ke seluruh wilayah Nusantara. Para da’i, baik lokal maupun yang berasal dari Timur Tengah terus berusaha menyampaikan ajaran Islam ke seluruh wilayah Nusantara. Hubungan yang telah terjalin antara kerajaan Aceh dengan Timur Tengah terus semakin berkembang. Tidak saja para ulama dan pedagang Arab yang datang ke Indonesia, tapi orang-orang Indonesia sendiri banyak pula yang hendak mendalami Islam datang langsung ke sumbernya di Mekah atau Madinah. Kapal-kapal dan ekspedisi dari Aceh terus berlayar menuju Timur Tengah pada awal abad ke 16. Bahkan pada tahun 974 H. atau 1566 M dilaporkan ada 5 kapal dari kerajaan Asyi (Aceh) yang berlabuh di bandar pelabuhan Jeddah. Ukhuwah yang erat antara Aceh dan Timur Tengah itu pula yang membuat Aceh mendapat sebutan Serambi Mekah.

2. Di Jawa
Benih-benih kedatangan Islam ke tanah Jawa sebenarnya sudah dimulai pada abad pertama Hijriyah atau abad ke 7 M. Hal ini dituturkan oleh Prof. Dr. Buya Hamka dalam bukunya Sejarah Umat Islam, bahwa pada tahun 674 M sampai tahun 675 M. sahabat Nabi, Muawiyah bin Abi Sufyan pernah singgah di tanah Jawa (Kerajaan Kalingga) menyamar sebagai pedagang. Bisa jadi Muawiyah saat itu baru penjajagan saja, tapi proses dakwah selanjutnya dilakukan oleh para da’i yang berasal dari Malaka atau kerajaan Pasai sendiri. Sebab saat itu lalu lintas atau jalur hubungan antara Malaka dan Pasai disatu pihak dengan Jawa dipihak lain sudah begitu pesat.
Adapun gerakan dakwah Islam di Pulau Jawa selanjutnya dilakukan oleh para Wali Sanga, yaitu : 
a. Maulana Malik Ibrahim atau Sunan Gresik 
Beliau dikenal juga dengan sebutan Syeikh Magribi. Ia dianggap pelopor penyebaran Islam di Jawa. Beliau juga ahli pertanian, ahli tata negara dan sebagai perintis lembaga pendidikan pesantren. Wafat tahun 1419 M.(882 H) dimakamkan di Gapura Wetan Gresik 

b. Raden Ali Rahmatullah (Sunan Ampel)
Dilahirkan di Aceh tahun 1401 M. Ayahnya orang Arab dan ibunya orang Cempa, ia sebagai mufti dalam mengajarkan Islam tak kenal kompromi dengan budaya lokal. Wejangan terkenalnya Mo Limo yang artinya menolak mencuri, mabuk, main wanita, judi dan madat, yang marak dimasa Majapahit. Beliau wafat di desa Ampel tahun 1481 M. 
Jasa-jasa Sunan Ampel : 
1) Mendirikan pesantren di Ampel Denta, dekat Surabaya. Dari pesantren ini lahir para mubalig kenamaan seperti : Raden Paku (Sunan Giri), Raden Fatah (Sultan Demak pertama), Raden Makhdum (Sunan Bonang), Syarifuddin (Sunan Drajat) dan Maulana Ishak yang pernah diutus untuk menyiarkan Islam ke daerah Blambangan.
2) Berperan aktif dalam membangun Masjid Agung Demak yang dibangun pada tahun 1479 M. 
3) Mempelopori berdirinya kerajaan Islam Demak dan ikut menobatkan Raden Patah sebagai Sultan pertama.

c. Sunan Giri (Raden Aenul Yaqin atau Raden Paku)
Ia putra Syeikh Yakub bin Maulana Ishak. Ia sebagai ahli fiqih dan menguasai ilmu Falak. Dimasa menjelang keruntuhan Majapahit, ia dipercaya sebagai raja peralihan sebelum Raden Patah naik menjadi Sultan Demak. Ketika Sunan Ampel wafat, ia menggantikannya sebagai mufti tanah Jawa.

d. Sunan Bonang (Makhdum Ibrahim)
Putra Sunan Ampel lahir tahun 1465. Sempat menimba ilmu ke Pasai bersama-sama Raden Paku. Beliaulah yang mendidik Raden Patah. Beliau wafat tahun 1515 M.

e. Sunan Kalijaga (Raden Syahid)
Ia tercatat paling banyak menghasilkan karya seni berfalsafah Islam. Ia membuat wayang kulit dan cerita wayang Hindu yang diislamkan. Sunan Giri sempat menentangnya, karena wayang Beber kala itu menggambarkan gambar manusia utuh yang tidak sesuai dengan ajaran Islam. Kalijaga mengkreasi wayang kulit yang bentuknya jauh dari manusia utuh. Ini adalah sebuah usaha ijtihad di bidang fiqih yang dilakukannya dalam rangka dakwah Islam. 

f. Sunan Drajat
Nama aslinya adalah Syarifudin (putra Sunan Ampel, adik Sunan Bonang). Dakwah beliau terutama dalam bidang sosial. Beliau juga mengkader para da’i yang berdatangan dari berbagai daerah, antara lain dari Ternate dan Hitu Ambon.

g. Syarif Hidayatullah
Nama lainnya adalah Sunan Gunung Jati yang kerap kali dirancukan dengan Fatahillah, yang menantunya sendiri. Ia memiliki keSultanan sendiri di Cirebon yang wilayahnya sampai ke Banten. Ia juga salah satu pembuat sokoguru masjid Demak selain Sunan Ampel, Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang. Keberadaan Syarif Hidayatullah dengan kesultanannya membuktikan ada tiga kekuasaan Islam yang hidup bersamaan kala itu, yaitu Demak, Giri dan Cirebon. Hanya saja Demak dijadikan pusat dakwah, pusat studi Islam sekaligus kontrol politik para wali.
h. Sunan Kudus
Nama aslinya adalah Ja’far Sadiq. Lahir pada pertengahan abad ke 15 dan wafat tahun 1550 M. (960 H). Beliau berjasa menyebarkan Islam di daerah kudus dan sekitarnya. Ia membangun masjid menara Kudus yang sangat terkenal dan merupakan salah satu warisan budaya Nusantara.

i. Sunan Muria 
Nama aslinya Raden Prawoto atau Raden Umar Said putra Sunan Kalijaga. Beliau menyebarkan Islam dengan menggunakan sarana gamelan, wayang serta kesenian daerah lainnya. Beliau dimakamkan di Gunung Muria, disebelah utara kota Kudus.
Diparuh awal abad 16 M, Jawa dalam genggaman Islam. Penduduk merasa tentram dan damai dalam ayoman keSultanan Demak di bawah kepemimpinan Sultan Syah Alam Akbar Al Fatah atau Raden Patah. Hidup mereka menemukan pedoman dan tujuan sejatinya setelah mengakhiri masa Siwa-Budha serta animisme. Merekapun memiliki kepastian hidup bukan karena wibawa dan perbawa sang Sultan, tetapi karena daulah hukum yang pasti yaitu syari’at Islam
“Salokantara” dan “Jugul Muda” itulah dua kitab undang-undang Demak yang berlandaskan syari’at Islam. Dihadapan peraturan negeri pengganti Majapahit itu, semua manusia sama derajatnya, sama-sama khalifah Allah di dunia. Sultan-Sultan Demak sadar dan ikhlas dikontrol oleh kekuasaan para Ulama atau Wali. Para Ulama itu berperan sebagai tim kabinet atau merangkap sebagai dewan
penasehat Sultan. 
Dalam versi lain dewan wali sanga dibentuk sekitar 1474 M. oleh Raden Rahmat (Sunan Ampel), membawahi Raden Hasan, Maftuh Ibrahim, Qasim (Sunan Drajat) Usman Haji (ayah Sunan Kudus, Raden Ainul Yakin (Sunan Gresik), Syekh Sutan Maharaja Raden Hamzah, dan Raden Mahmud. Beberapa tahun kemudian Syekh Syarif Hidayatullah dari Cirebon bergabung di dalamnya. Sunan Kalijaga dipercaya para wali sebagai muballig keliling. Disamping wali-wali tersebut, masih banyak Ulama yang dakwahnya satu kordinasi dengan Sunan Ampel hanya saja, sembilan tokoh Sunan Wali Sanga yang dikenal selama ini memang memiliki peran dan karya yang menonjol dalam dakwahnya. 

3. Di Sulawesi
Ribuan pulau yang ada di Indonesia, sejak lama telah menjalin hubungan dari pulau ke pulau. Baik atas motivasi ekonomi maupun motivasi politik dan kepentingan kerajaan. Hubungan ini pula yang mengantar dakwah menembus dan merambah Celebes atau Sulawesi. Menurut catatan company dagang Portugis pada tahun 1540 saat datang ke Sulawesi, di tanah ini sudah ditemui pemukiman muslim di beberapa daerah. Meski belum terlalu banyak, namun upaya dakwah terus berlanjut dilakukan oleh para da’i di Sumatra, Malaka dan Jawa hingga menyentuh raja-raja di kerajaan Gowa dan Tallo atau yang dikenal dengan negeri Makasar, terletak di semenanjung barat daya pulau Sulawesi. 
Kerajaan Gowa ini mengadakan hubungan baik dengan kerajaan Ternate dibawah pimpinan Sultan Babullah yang telah menerima Islam lebih dahulu. Melalui seorang da’i bernama Datuk Ri Bandang agama Islam masuk ke kerajaan ini dan pada tanggal 22 September 1605 Karaeng Tonigallo, raja Gowa yang pertama memeluk Islam yang kemudian bergelar Sultan Alaudin Al Awwal (1591-1636 ) dan diikuti oleh perdana menteri atau Wazir besarnya, Karaeng Matopa.
Setelah resmi menjadi kerajaan bercorak Islam Gowa Tallo menyampaikan pesan Islam kepada kerajaan-kerajaan lain seperti Luwu, Wajo, Soppeng dan Bone. Raja Luwu segera menerima pesan Islam diikuti oleh raja Wajo tanggal 10 Mei 1610 dan raja Bone yang bergelar Sultan Adam menerima Islam tanggal 23 November 1611 M. Dengan demikian Gowa (Makasar) menjadi kerajaan yang berpengaruh dan disegani. Pelabuhannya sangat ramai disinggahi para pedagang dari berbagai daerah dan manca negara. Hal ini mendatangkan keuntungan yang luar biasa bagi kerajaan Gowa (Makasar). Puncak kejayaan kerajaan Makasar terjadi pada masa Sultan Hasanuddin (1653-1669).

4. Di Kalimantan 
Islam masuk ke Kalimantan atau yang lebih dikenal dengan Borneo melalui tiga jalur. Jalur pertama melalui Malaka yang dikenal sebagai kerajaan Islam setelah Perlak dan Pasai. Jatuhnya Malaka ke tangan Portugis kian membuat dakwah semakin menyebar sebab para muballig dan komunitas muslim kebanyakan mendiamai pesisir barat Kalimantan. 
Jalur kedua, Islam datang disebarkan oleh para muballig dari tanah Jawa. Ekspedisi dakwah ke Kalimantan ini mencapai puncaknya saat kerajaan Demak berdiri. Demak mengirimkan banyak Muballig ke negeri ini. Para da’i tersebut berusaha mencetak kader-kader yang akan melanjutkan misi dakwah ini. Maka lahirlah ulama besar, salah satunya adalah Syekh Muhammad Arsyad Al Banjari.
Jalur ketiga para da’i datang dari Sulawesi (Makasar) terutama da’i yang terkenal saat itu adalah Datuk Ri Bandang dan Tuan Tunggang Parangan.

a. Kalimantan Selatan 
Masuknya Islam di Kalimantan Selatan adalah diawali dengan adanya krisis kepemimpinan dipenghujung waktu berakhirnya kerajaan Daha Hindu. Saat itu Raden Samudra yang ditunjuk sebagai putra mahkota oleh kakeknya, Raja Sukarama minta bantuan kepada kerajaan Demak di Jawa dalam peperangan melawan pamannya sendiri, Raden Tumenggung Sultan Demak (Sultan Trenggono) menyetujuinya, asal Raden Samudra kelak bersedia masuk Islam. 
Dalam peperangan itu Raden Samudra mendapat kemenangan. Maka sesuai dengan janjinya ia masuk Islam beserta kerabat keraton dan penduduk Banjar. Saat itulah tahun (1526 M) berdiri pertama kali kerajaan Islam Banjar dengan rajanya Raden Samudra dengan gelar Sultan Suryanullah atau Suriansyah. Raja-raja Banjar berikutnya adalah Sultan Rahmatullah (putra Sultan Suryanullah), Sultan Hidayatullah (putra Sultan Rahmatullah dan Marhum Panambahan atau Sultan Musta’in Billah. Wilayah yang dikuasainya meliputi daerah Sambas, Batang Lawai, Sukadana, Kota Waringin, Sampit Medawi, dan Sambangan.

b. Kalimantan Timur
Di Kalimantan Timur inilah dua orang da’i terkenal datang, yaitu Datuk Ri Bandang dan Tuan Tunggang Parangan, sehingga raja Kutai (raja Mahkota) tunduk kepada Islam diikuti oleh para pangeran, para menteri, panglima dan hulubalang. Untuk kegiatan dakwah ini dibangunlah sebuah masjid.
Tahun 1575 M, raja Mahkota berusaha menyebarkan Islam ke daerah-daerah sampai ke pedalaman Kalimantan Timur sampai daerah Muara Kaman, dilanjutkan oleh Putranya, Aji Di Langgar dan para penggantinya.

5. Di Maluku.
Kepulauan Maluku terkenal di dunia sebagai penghasil rempah-rempah, sehingga menjadi daya tarik para pedagang asing, tak terkecuali para pedagang muslim baik dari Sumatra, Jawa, Malaka atau dari manca negara. Hal ini menyebabkan cepatnya perkembangan dakwah Islam di kepulauan ini.
Islam masuk ke Maluku sekitar pertengahan abad ke 15 atau sekitar tahun 1440 dibawa oleh para pedagang muslim dari Pasai, Malaka dan Jawa (terutama para da’i yang dididik oleh para Wali Sanga di Jawa). Tahun 1460 M, Vongi Tidore, raja Ternate masuk Islam. Namun menurut H.J De Graaft (sejarawan Belanda) bahwa raja Ternate yang benar-benar muslim adalah Zaenal Abidin (1486-1500 M). Setelah itu Islam berkembang ke kerajaan-kerajaan yang ada di Maluku. Tetapi diantara sekian banyak kerajaan Islam yang paling menonjol adalah dua kerajaan , yaitu Ternate dan Tidore.
Raja-raja Maluku yang masuk Islam seperti :
a. Raja Ternate yang bergelar Sultan Mahrum (1465-1486).
b. Setelah beliau wafat digantikan oleh Sultan Zaenal Abidin yang sangat besar jasanya dalam menyiarkan Islam di kepulauan Maluku, Irian bahkan sampai ke Filipina.
c. Raja Tidore yang kemudian bergelar Sultan Jamaluddin.
d. Raja Jailolo yang berganti nama dengan Sultan Hasanuddin.
e. Pada tahun 1520 Raja Bacan masuk Islam dan bergelar Zaenal Abidin.
Selain Islam masuk dan berkembang di Maluku, Islam juga masuk ke Irian yang disiarkan oleh raja-raja Islam di Maluku, para pedagang dan para muballig yang juga berasal dari Maluku.
Daerah-daerah di Irian Jaya yang dimasuki Islam adalah : Miso, Jalawati, Pulau Waigio dan Pulau Gebi.
D.    Peranan Organisasi-organisasi Islam dan Partai-partai Politik Islam
Dalam perjuangan membela bangsa, Negara dan menegakkan Islam di Indonesia, Umat Islam mendirikan berbagai organisasi dan partai politik dengan corak dan warna yang berbeda-beda. Ada yang bergerak dalam bidang politik, sosial budaya, pendidikan, ekonomi dan sebagainya. Namun semuanya mempunyai tujuan yang sama, yaitu memajukan bangsa Indonesia khususnya umat Islam dan melepaskan diri dari belenggu penjajahan. Tercatat dalam sejarah, bahwa dari lembaga-lembaga tersebut telah lahir para tokoh dan pejuang yang sangat berperan baik di masa perjuangan mengusir penjajah, maupun pada masa pembangunan.

1. Sarekat Islam (SI)
Sarekat Islam (SI) pada awalnya adalah perkumpulan bagi para pedagang muslim yang didirikan pada akhir tahun 1911 di Solo oleh H. Samanhudi. Nama semula adalah Sarekat Dagang Islam (SDI). Kemudian tanggal 10 Nopember 1912 berubah nama menjadi Sarekat Islam (SI). H.Umar Said Cokroaminoto diangkat sebagai ketua, sedangkan H.Samanhudi sebagai ketua kehormatan. Latar belakang didirikannya organisasi ini pada awalnya untuk menghimpun dan memajukan para pedagang Islam dalam rangka bersaing dengan para pedagang asing, dan juga membentengi kaum muslimin dari gerakan penyebaran agama Kristen yang semakin merajalela. Dengan nama Sarekat Islam dibawah pimpinan H.O.S. Cokroaminoto organisasi ini semakin berkembang karena mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat. Daya tarik utamanya adalah asas keislamannya. Dengan SI mereka (umat Islam) yakin akan dibela kepentingannya.
Keanggotaan SI terbuka untuk semua golongan dan suku bangsa yang beragama Islam. Berbeda dengan Budi Utomo yang membatasi keanggotaannya pada suku bangsa tertentu (Jawa). Sehingga banyak sejarawan mengatakan bahwa tanggal berdirinya SI ini lebih tepat disebut sebagai Hari Kebangkitan Nasional, dan bukan tahun 1908 dengan patokan berdirinya Budi Utomo. Karena ruang lingkup Budi Utomo hanyalah pulau Jawa, bahkan hanya etnis Jawa Priyayi. Sedangkan SI mempunyai cabang-cabang di seluruh Indonesia. Jadi layak disebut “Nasional”.
Secara lahir SI tidak menyatakan diri sebagai organisasi partai politik. Tetapi dalam sepak terjangnya jelas kelihatan sebagai organisasi politik. Kegiatan politik dilakukan dengan sangat hati-hati dan bertahap. Dalam kongres tahun 1914, Cokroaminoto mengatakan bahwa SI akan bekerjasama (kooperatif) dengan pemerintah dan tidak berniat melawan pemerintah. Dua tahun kemudian dalam kongresnya di Bandung, dia melancarkan kritik terhadap praktek kolonialisme yang telah menyengsarakan rakyat. Dalam kongres itu SI menuntut supaya Indonesia diberi pemerintahan sendiri dan rakyat diberi kesempatan untuk duduk dalam pemerintahan. Semakin lama sikap SI semakin keras. Abdul Muis salah satu tokoh SI mengatakan, jika tuntutan-tuntutan itu tidak diindahkan pemerintah (penjajah), anggota SI bersedia membalas kekerasan dengan kekerasan. Pada waktu pemerintah mendirikan Volksraad (Dewan Rakyat), SI mendudukkan wakilnya dalam dewan itu, antara lain Cokroaminoto dan H. Agus Salim. Setelah ternyata Volksrad tidak bisa dipakai sebagai lembaga untuk memperjuangkan kemerdekaan, SI pun menarik wakilnya. Demikian SI beralih ke strategi non-kooperatif. 
Pada kongres 1917, SI mulai dimasuki pengaruh lain, yaitu dengan masuknya orang-orang yang berfaham Marxis (komunis) seperti Semaun dan Darsono. Bahkan pada kongresnya yang ketiga tahun 1918 pengaruh Semaun semakin kuat. Tetapi SI masih membiarkannya demi persatuan dan kesatuan bangsa yang saat itu sangat diperlukan dalam menghadapi pemerintah penjajah. Pada tangal 10 Oktober 1921 dalam kongres SI yang ke-6 H. Agus Salim dan Abdul Muis merangkap menjadi anggota dan pengurus mencetuskan perlunya disiplin partai dalam tubuh SI, antara lain seorang anggota SI tidak boleh merangkap menjadi anggota atau pengurus di partai lain. Ini tujuan sebenarnya adalah untuk membersihkan barisan SI dari unsur-unsur komunis. Dengan disetujuinya gagasan ini akhirnya Semaun dan Darsono keluar dari SI. Tapi kemudian SI terpecah menjadi dua, yaitu SI Merah dan SI Putih. SI Merah dipimpin oleh Semaun berpusat di Semarang dan berazaskan Komunis. Adapun SI Putih dipimpin oleh HOS Tjokroaminoto berazaskan Islam.
Pada Kongres SI ke-7. SI Putih berubah nama menjadi Partai Sarekat Islam (PSI). Pada tahun 1927 nama Partai Sarekat Islam (PSI) ditambah dengan kata Indonesia, sehingga menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). Hanya sangat disayangkan partai ini kemudian menjadi terpecah belah. Ada PSII yang dipimpin oleh Sukiman, PSII Kartosuwiryo, PSII Abikusno, dan PSII H. Agus Salim.

2. Muhammadiyah
Muhammadiyah secara etimologi artinya pengikut Nabi Muhammad. Adalah sebuah organisasi non-politis yang bertujuan mengembalikan ajaran Islam sesuai dengan al-Quran dan Sunnah Nabi Muhammad saw; memberantas kebiasaan yang tidak sesuai dengan ajaran agama (bid’ah) dan memajukan ilmu agama Islam di kalangan anggotanya. Organisasi ini didirikan oleh KH. Ahmad Dahlan di Yogyakarta pada 18 Nopember 1912. Dalam Anggaran Dasar Muhammadiyah yang baru, telah disesuaikan dengan UU no.8 tahun 1985 dan hasil Muktamar Muhammadiyah ke-41 di Surakarta pada tanggal 7-11 Desember 1985, Bab 1 pasal 1 disebutkan bahwa Muhammadiyah adalah gerakan Islam dan dakwah amar ma’ruf nahi munkar yang berakidah Islam dan bersumber pada al-Quran dan Sunnah. Sifat gerakannya adalah non-politik, tapi tidak melarang anggotanya memasuki partai politik. Hal ini dicontohkan oleh pendirinya sendiri, KH Ahmad Dahlan, dimana beliau juga adalah termasuk anggota Sarekat Islam.
Banyak anggota Muhammadiyah yang berjuang baik pada masa penjajahan Belanda, Jepang, masa mempertahankan kemerdekaan, masa Orde Lama, Orde Baru dan Masa Reformasi. Mereka tersebar di berbagai organisasi pergerakan, organisasi partai politik dan lembaga-lembaga negara. Tokoh-tokoh Muhammadiyah yang kita kenal seperti KH. Mas Mansur, Prof. Kahar Muzakir, Dr. Sukirman Wirjosanjoyo adalah para pejuang yang tidak asing lagi. Demikian pula seperti Buya Hamka, KH AR. Fakhruddin, Dr. Amin Rais, Dr. Syafi’i Ma’arif dan Dr. Din Syamsudin adalah tokoh–tokoh Muhammadiyah yang sangat berperan dalam pentas nasional Indonesia.

3. Al Irsya
d
Organisasi ini berdiri tanggal 6 September 1914 di Jakarta, dua tahun setelah Muhammadiyah berdiri, dan bisa dibilang sebagai sempalan dari Jami’atul Khair. Diantara tokoh al-Irsyad yang terkenal adalah syeikh Ahmad Surkati, berasal dari Sudan yang semula adalah pengajar di Jami’atul Khair. Al Irsyad ini mengkhususkan diri dalam perbaikan (pembaharuan) agama kaum muslimin khususnya keturunan Arab Sebagian tokoh Muhammadiyah pada awal berdirinya juga adalah kader-kader yang dibina dalam lembaga pendidikan AlIrsyad. Saat itu al-Irsyad sudah memiliki Madrasah Awaliyah (3 tahun), Madrasah Ibtidaiyah (4 tahun), Madrasah Tajhiziyah (2tahun), dan Madrasah Mu’allimin yang dikhususkan untuk mencetak guru.
Al-Irsyad bergerak bukan hanya dalam bidang pendidikan, tapi juga bidang-bidang lain seperti rumah sakit, panti asuhan dan rumah yatim piatu.

4. Nahdlatul Ulama
artinya kebangkitan para ulama. Adalah sebuah Organisasi sosial keagamaan yang dipelopori oleh para ulama atau kiyai. Mereka itu ialah K.H.Hasyim Asy’ari, K.H.Wahab Hasbullah, K.H.Bisri Syamsuri, K.H.Mas Alwi , dan K.H.Ridwan. Lahir di Surabaya pada tanggal 31 Januari 1926 dan kini menjadi salah satu organisai dan gerakan Islam terbesar di tanah air. Bertujuan mengupayakan berlakunya ajaran Islam yang berhaluan Ahlussunnah Waljama’ah dan penganut salah satu dari empat mazhab fiqih (Imam Hanafi, Imam Syafi’i, Imam Hambali dan Imam Maliki).
Pada masa reformasi (1999) para tokoh NU yang dimotori oleh KH. Abdurrahman Wahid mendirikan partai politik, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang kemudian termasuk 5 besar pemenang Pemilu pada tahun tersebut. Melalui poros tengah, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai pemimpin NU saat itu berhasil menjadi orang nomor satu di RI, meskipun hanya berumur satu tahun.
Peranan NU sebagai organisasi dalam perjuangan mengusir penjajah dan mempertahankan kemerdekaan tidak diragukan lagi. Bahkan para kyai dan santri memikul senjata (bambu runcing atau golok) untuk berjihad fi sabilillah. Tercatat dalam sejarah tanggal 23 Oktober 1945 NU mengeluarkan Resolusi Jihad untuk melawan tentara penjajah.

5. Majlis Islam A’la Indonesia (MIAI)
MIAI ini sebenarnya berdiri pada masa pemerintahan Belanda, yaitu tanggal 21 September 1937 di Surabaya sebagai organisasi federasi yang diprakarsai oleh K.H. Mas Mansur, K.H. Ahmad Dahlan (Muhammadiyah), K.H. Wahab Hasbullah (NU) dan Wondoamiseno (PSII).
Tujuan didirikan MIAI ini adalah agar semua umat Islam mempunyai wadah tempat membicarakan dan memutuskan semua soal yang dianggap penting bagi kemaslahatan umat dan agama Islam. Keputusan yang diambil MIAI harus dilaksanakan oleh semua organisasi yang menjadi anggotanya.
Pembentukan MIAI mendapat sambutan dari berbagai organisasi Islam di Indonesia seperti PSII, Muhammadiyah, NU, Persis, dan organisasi-organisasi yang lebih kecil lainnya. Pada waktu dibentuk anggotanya hanya 7 organisasi, tapi empat tahun kemudian jumlahnya sudah mencapai duapuluh.
Pada akhir pemerintahan Hindia Belanda MIAI memberikan dukungan terhadap aksi Indonesia berparlemen yang dicanangkan oleh GAPI (Gabungan Politik Indonesia). Pada waktu GAPI menyusun rencana konstitusi untuk Indonesia, MIAI menghendaki agar yang menjadi kepala negara adalah orang Indonesia yang beragama Islam dan dua pertiga dari menteri-menteri harus orang Islam.

6. Masyumi
Masyumi kepanjangan dari Majlis Syura Muslimin Indonesia berdiri tahun 1943. Dalam Muktamar Islam Indonesia tanggal 7 Nopember 1945 disepakati bahwa Masyumi adalah sebagai satu-satunya partai Islam untuk rakyat Indonesia. Saat itu juga Masyumi mengeluarkan maklumat yang berbunyi :” 60 Milyoen kaum muslimin Indonesia siap berjihad fi sabilillah “, Pernyataan ini direkam dengan baik oleh harian Kedaulatan Rakyat pada tanggal 8 Nopember 1945. Organisasi ini dipimpin oleh K.H. Mas Mansur dan didampingi K.H.Hasyim Asy’ari. Tergabung dalam organisasi ini adalah Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, Persis, dan Sarekat Islam. Tokoh-tokoh lain yang penting misalnya Ki Bagus Hadikusumo, Abdul Wahab dan tokoh-tokoh muda lainnya misalnya Moh. Natsir, Harsono Cokrominoto, dan Prawoto Mangunsasmito.
Visi Masyumi bahwa setiap umat Islam diwajibkan jihad Fi sabilillah dalam berbagai bidang, termasuk dalam bidang politik. Para pemuda Islam, khususnya para santri dipersiapkan untuk berjuang secara fisik maupun politis. Masyumi dibubarkan oleh Soekarno pada tahun 1960. Sementara organisasi-organisasi yang semula bergabung dalam Masyumi sudah mengundurkan diri sebelumnya, seolah-olah mereka tahu bahwa Masyumi akan dibubarkan.

7. Mathla’ul Anwar
Organisasi ini berdiri tahun 1905 di Marus, Menes Banten. Bergerak dalam bidang sosial keagamaan dan pendidikan. Pendirinya adalah KH. M. Yasin. Tujuannya adalah untuk mengembangkan pendidikan Islam khususnya di kalangan masyarakat sekitar Menes Banten. Aspirasi politik organisasi ini pernah disalurkan melalui Sarekat Islam (SI), tapi perkembangan selanjutnya organisasi ini menjadi netral, artinya tidak ikut dalam kegiatan politik, tapi hanya mengkhususkan diri pada kegiatan sosial dan pengembangan pendidikan Agama. Berkat memfokuskan diri pada pendidikan, organisasi ini sekarang sudah menjadi organisasi berskup nasional. Lembaga-lembaga pendidikannya berupa madrasah-madrasah dari mulai TK sampai Madrasah Aliyah (setingkat SMA) tersebar di seluruh Nusantara.

8. Persatuan Islam (Persis)
Persis adalah organisasi sosial pendidikan dan keagamaan. Didirikan pada tanggal 17 September 1923 di Bandung atas prakarsa KH. Zamzam dan Muhammad Yunus, dua saudagar dari kota Palembang. Organisasi ini diketuai pertama kali oleh A. Hassan, seorang ulama yang terkenal sebagai teman dialog Bung Karno ketika ia dipenjara. Bung Karno banyak berdialog dengan A.Hassan lewat surat-suratnya. Pemikiran-pemikiran keagamaan Bung Karno selain dari HOS Cokroaminoto, juga banyak berasal dari A.Hassan ini.

Diantara tujuan Persis ini adalah :
a. Mengembalikan kaum Muslimin kepada Al-Quran dan Sunnah (hadis nabi)
b. Menghidupkan ruh jihad dan ijtihad dalam kalangan umat Islam 
c. Membasmi bid’ah, khurafat dan takhayul, taklid dan syirik dalam kalangan umat Islam
d. Memperluas tersiarnya tabligh dan dakwah Islam kepada segenap lapisan masyarakat
e. Mendirikan madrasah atau pesantren untuk mendidik putra-putri muslim dengan dasar Quran dan Sunnah.


12. Majlis Ulama Indonesia (MUI)
Majlis Ulama ini sebenarnya sudah berdiri sejak jaman pemerintahan Soekarno, tetapi baru di tingkat daerah. Di Jawa Barat misalnya majlis ini berdiri tanggal 12 Juli 1958. Pada tanggal 21 sampai 27 Juni 1975 diadakan Musyawarah Nasional I Majlis Ulama seluruh Indonesia di Jakarta yang dihadiri oleh wakil-wakil Majlis Ulama propinsi. Ketika itulah Majlis Ulama tingkat Nasional berdiri dengan nama Majlis Ulama Indonesia (MUI).
Fungsi MUI antara lain :
a. Memberi fatwa dan nasihat mengenai masalah keagamaan dan kemasyarakatan kepada pemerintah dan umat Islam umumnya sebagai amar ma’ruf nahi munkar, dalam usaha meningkatkan ketahanan nasional.
b. Mempererat ukhuwah Islamiyah dan memelihara serta meningkatkan suasana kerukunan antar umat beragama dalam mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa.
c. Mewakili umat Islam dalam konsultasi antara umat beragama.
d. Penghubung antara Ulama dan Umara (pemerintah) serta menjadi penerjemah timbal balik antara pemerintah dan umat guna menyukseskan pembangunan nasional.
Sejak berdiri sampai saat ini sudah banyak fatwa-fatwa MUI dikeluarkan antara lain menyangkut :
a. Hukum natal bersama bagi umat Islam
b. Aliran-aliran Islam sesat di Indonesia
c. Fatwa tentang bunga bank konvensional
d. Fatwa tentang bayi tabung dan inseminasi buatan
e. Fatwa tentang faham pluralisme dan sekularisme
f. Fatwa tentang perkawinan beda agama
g. Dan lain-lain
Ulama yang pernah menduduki jabatan ketua MUI antara lain :
a. Prof.Dr. Hamka (1975- 1981)
b. KH. Syukri Ghozali (1981- 1984)
c. KH. EZ. Muttaqien (1984- 1985)
d. KH. Hasan Basri (1985- 1995)
e. H. Amidhan

13. Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI)
ICMI berdiri pada 7 Desember 1990 sebagai sebuah organisasi yang menampung para cendekiawan muslim yang mempunyai komitmen pada nilai-nilai keislaman, tanpa melihat aliran, warna politik dan kelompok. ICMI sebagai wadah tempat berdialog para intelektual guna memecahkan persoalan-persoalan bangsa. Organisasi ini pertama kali dipimpin oleh Prof. Dr.BJ. Habibie, kemudian Ahmad Tirto Sudiro dan Adi Sasono.
ICMI bergerak berlandaskan tiga hal :
a. Iman sebagai landasan moral untuk memicu prestasi taqwa
b. Pancasila dan UUD 45 sebagai azas filosofis dan konstitusional kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat.
c. Ilmu pengetahuan dan teknologi sebagai alat dan sarana bagi peningkatan mutu kehidupan.
Sasaran jangka panjang adalah peningkatan kualitas ilmu, kualitas hidup, kualitas kerja, kualitas berkarya dan kualitas berfikir bangsa Indonesia pada umumnya dan umat Islam pada khususnya.
Organisasi ini berkembang cukup cepat. Terbukti saat Silaknas I ( 5-7 Desember 1991) jumlah anggotanya sekitar 15000 orang. Pada Nopember 1993 ICMI sudah mempunyai 32 Orwil (Organisasi Wilayah), yakni 28 di dalam negeri dan 4 di luar negeri ( Eropa, Timur Tengah, Amerika Serikat dan Pasifik). ICMI sudah memiliki 309 Orsat (Organisasi Satuan), yakni 277 di dalam negeri dan 32 di luar negeri.
2.      BRUNEI DARUSSALAM
A.    Masuknya Islam di Brunei Darussalam
Agama Islam diperkirakan telah lama tersebar di Brunei. Pada tahun 1511, Melaka telah jatuh ketangan Portugis. Mulanya Portugis menumpukan kepentingan wilayahnya kepada semenenjung Tanah Melayu dan Selat Melaka. Tetapi pada tahun 1526, berikutan dengan tercapainya satu perjanjian perniagaan dengan Brunei, Portugis telah membuka perniagaan di Brunei. Pada masa itu Brunei telah menjadi tempat persinggahan para pedagang disepanjang lalulintas perkapalan Malaka dan Ternate.
Menurut riwayat china, pada 977, raja Puni telah menghantar utusannya ke China yang diketuai oleh Pu Ya-li, qadhi Qasim dan Sheikh Noh. Ini membuktikan bahwa agama Islam sudah dipeluk oleh orang berpengaruh di Brunei. Dalam sejarah China, dicatatkan bahwa pada 1370 Brunei atau Puni pada masa itu rajanya  bernama Ma-ha-mo-sya(sultan Mohammad Shah) telah menghantar utusan ke China dengan membawa sepucuk surat menggunakan tulisan khat yang bentuknya sama dengan tulisan Huiku, tulisan orang Islam keturunan Turki yang mendiami daerah Uighur.
Berdasarkan data diatas, dipercayai agama Islam telah masuk ke Brunei jauh sebelum tahun 1368. Sesudah Awang Alak Baetatar(sultan Muhammad Syah), Islam barulah menjadi agama resmi bagi seluruh Negara. Disebutkan juga oleh riwayat China bahwa utusan China, yang diketuai oleh seorang Islam bernama Cheng Ho, yang datang ke Brunei pada 1405, mendapati bahwa di Brunei telah ada kerajaan Islam dan keluarga raja tersebut disebutnya dengan sebutan “Pengiran”. Pengganti sultan Muhammad Shah adalah Pateh Berbai yang setelah diangkat menjadi sultan bergelar sultan Ahmad. Menurut salasilah raja-raja Brunei, sultan Ahmad kemudian digantikan oleh menantunya sultan Sharif Ali berasal dari Taif., seorang keturunan Nabi dari jalur Sayyidina Hasan. Beliau kawin denga putri sultan Ahmad bernama Putri Rana Kesuma. Setelah sultan Ahmad wafat, sultan Sharif Ali diangkat menjadi sultan ke3, dengan gelar sultan Berkat. Yang perlu dicatat dari sultan Sharif Ali adalah bahwa beliaulah yang sebenarnya menanamkan ajaran Islam sesuai dengan ajaran ahl sunnah wa jama’ah dengan mazhab syafi’i. Selain itu, beliau pula yang menentukan arah kiblat yang betul, karena ajaran Islam sebelumnya banyak bercampur dengan ajaran Hindu-Budha.
Sultan Sharif Ali wafat pada 1432 dan digantikan oleh putra baginda bernama Sultan Sulaiman. Keturunan sultan Sharif Ali inilah yang melahirkan keturunan Sultan dan raja-raja Brunei sampai hari ini. Dua dari peletak asas dan pembangunan kesultanan Brunei yang berpengaruh adalah Sultan Sulaiman dan Sultan Bolkiah. Dibawah pemerintahan Sultan Bolkiah itulah Brunei mencapai masa kegemilangan. Era keemasan ini berlanjut selama beberapa waktu hingga kedatangan pengembara-pengembara barat, seperti pelaut berbangsa Portugis, Ludovico de Vartema (1507), dan Antonio Pigfetta (1521), yang banyak menceritakan masa keemasan Brunei.
Adapun nama-nama Sultan yang pernah menguasai kesultanan Brunei adalah sebagai berikut:
1.    Sultan Muhammad Syah (1363-1402)
2.    Sultan Ahmad (1408-1425)
3.    Sultan Sharif Ali (1425-1432)
4.    Sultan Sulaiman (1432-1485)
5.    Sultan Bolkiah (1485-1524)
6.    Sultan Abdul Kahar (1524-1530)
7.    Sultan Saiful Rijal (1533-1581)
8.    Sultan Syah Brunei (1581-1582)
9.    Sultan Muhammad Hasan (1582-1598)
10. Sultan Abdul Jalilul Akbar (1598-1659)
11. Sultan Abdul Jalilul Jabbar (1659-1660)
12. Sultan Haji Muhammad Ali (1660-1661)
13. Sultan Abdul Hakkhul Mubin (1661-1673)
14. Sultan Muhyiddin (1673-1690)
15. Sultan Nasaruddin (1690-1710)
16. Sultan Husin Kamaluddin (1710-1730)dan 1737-1740)
17. Sultan Muhammad Alaudin (1730-1737)
18. Sultan Omar Ali Saifudin (1740-1795)
19. Sultan Muhammad Tajudin (1795-1804) dan (1804-1807)
20. Sultan Muhammad Jamalul Alam I (1804)
21. Sultan Muhammad Kanzul Alam (1807-1826)
22. Sultan Muhammad Alam (1826-1828)
23. Sultan Omar Ali Saifudin II (1828-1852)
24. Sultan Abdul Momin (1852-1885)
25. Sultan Hashim Jalilul Alam Aqamaddin (1885-1906)
26. Sultan Muhammad Jamalul Alam II (1906-1924)
27. Sultan Ahmad Tajudin (1924-1950)
28. Sultan Haji Omar Ali Saifudin III (1950-1967)
29. Sultan Haji Hassanal Bolkiah (1967- sekarang)

Banyaknya penyebar-penyebar Islam dari Brunei diwilayah Filipina Selatan, kemegahan Sultan Bolkiah, dan berkembangnya perdagangan telah menyebabkan cemburu dan iri hati penguasa Spanyol di Manila. Itulah diantara penyebab kolonial Spanyol di Manila mengirim sepucuk surat kepada Sultan Saiful Rijal, yang isinya selain menuduh Brunei menghasut orang-orang Islam di Filipina untuk memberontak terhadap kekuasaan Spanyol, meminta paksa agar diizinkan menyebarkan agama Kristen di Brunei. Tentu saja, Sultan Saiful Rijal berang dan menolak keras isi surat tersebut. Akibatnya, Spanyol pada April 1578 mengirim armada laut ke Brunei dengan maksud menundukan dan menguasai Brunei. Tetapi ternyata Sultan Saiful Rijal berhasil mematahkan serbuan armada laut Spanyol tersebut, sehingga mereka kembali ke Manila dengan tangan hampa.

Pemerintahan negara Brunei, sebagaimana tercatat dalam kanun Brunei dan pernah dijalankan sebelum menyebarluasnya sistem atau gaya pemerintahan ala barat (Inggris), adalah suatu pemerintahan yang terdiri dari Sultan, jema’ah perunding, dan penasihat, yaitu duli-duli wajir, pangiran bendahara, pangiran di-gadong, pangiran temenggong, pangiran pamancha, kadhi besar, dan beberapa orang ceteria (sebutan orang melayu untuk satria).

Dimulai pada zaman pemerintahan sultan Muhammad Hasan(1582-1598) Brunei mempunyai pemerintahan yang berbentuk piramida; dengan sultan berada pada puncaknya, sedang dibawahnya adalah empat orang wajir, yakni pangiran bendahara, pangiran di-gadong, pangiran temenggong, dan pangiran pamancha. Dibawah para wajir terdapat 60 orang ceteria, yang terdiri dari seorang perdana ceteria, 4 kepala ceteria, 8 ceteria besar, 16 ceteria penalasan, dan 32 ceteria damit. Ceteria adalah jawatan tertinggi selepas wajir dalam susunan hierarki pemerintahan di Brunei. Gelar ceteria ini adalah anugerah dari Sultan kepada mereka yang keturunan atau berdarah raja. Oleh karena itu, rakyat  biasa tidak boleh diberi gelar ceteria.

B.     Bermulanya Pengaruh Inggris di Brunei Darusallam Sampai Sekarang

Pengaruh Inggris bermula dari kedatangan seorang pengembara Inggris bernama  James Brooke di Kuching (Serawak) pada tahun 1839. James Brooke mendapat simpati besar dari pangeran muda Hashim, wakil Sultan Brunei di Serawak, akibat bantuan James Brooke dalam memadamkan pemberontakan kecil di Serawak. Pada tahun 1841 James Brooke dilantik menjadi pemegang kuasa (wakil) Sultan Brunei untuk daerah Serawak yang menggantikan pangeran Indra Mahkota . Kedudukan James Brooke di kukuhkan dengan perjanjian Serawak pada tahun 1842.

Wilayah Brunei di bagian Borneo Utara (Sabah) dipajakan kepada dua orang saudagar Eropa, Baron de Overback dan Alfred Dent . Pada tahun 1881 pihak pemajak membentuk sebuah serikat perdagangan yakni North Borneo Chartered Company untuk mengurus dan memerintah negri itu sebagai ladang pribadi. Juli 1946 Borneo dijual kepada kerajaan Inggris dan dijadikan tanah jajahannya. Pada perang Dunia II, Borneo Utara dijajah oleh Jepang.

Pada masa kekuasaan Sultan Omar Ali Saifudin II terjadi konflik internal keluarga di Raja Brunei berakhir dengan pembunuhan pangeran muda Hashim (adik pangeran Badaruddin) dan keluarganya, pada akhir bulan Oktober 1845 atas perintah Sultan Omar Ali Saiffuddin II. Inggris memenfaatkannya untuk memaksa Sultan Omar Ali Saifuddin untuk menyerahkan pulau Labuan kepada Inggris pada tahun 1846. Inggris ikut campur tangan dan memaksa Sultan diasingkan kepedalaman damuan. Tetapi Sultan mendapat bantuan dari ketua kaum melayu bernama Haji Saman. Pada 19 Agustus 1846 pasukan Inggris dari Singapura dibawah pimpinan kapten laut. G. Rodnei  datang  kekubu pertahanan haji Saman Omar Ali Saifuddin menandatangani penyerahan kekuasaan pulau Labuan kepada Inggris pada tahun 18 Desember 1846.

Pada 22 Januari 1848 James Brooke dilantik Inggris menjadi pesuruh jaya dan konsul jendral Inggris untuk kerajaan Brunei pada tahun 1847. Brunei menandatangani perjanjian persahabatan dan perdagangan dengan Inggris. Perjanjian tersebut berisikan tentang hak-hak istimewa dibidang perniagaan dan ekstra teritorial kepada warga Inggris yang berniaga di Brunei. Bahkan Brunei meletakan dirinya dibawah perlindungan Inggris. Melalui perjanjian yang ditanda tangan pada 17 September 1888. Brunei memberi hak kuasa kepada Inggris menetapkan seorang residen di Brunei.

Sejak saat itu bermula era baru satu sistem pemerintah keresidenan (residential system). Sama dengan negri-negri melayu di Semanjung Malaka, dengan itu Bunei kehilangan kemerdekaan dan kebebasannya. Sultan sudah tidak berkuasa secara penuh karena yang memegang de facto adalah residen Inggris. Di asaskan satu system pemerintaha ala barat berubah lagi setelah Brunei mendapat perlembagaan bertulis oleh Sultan pada 29 September 1959 dan kemerdekaan penuh Brunei pada 1984. Untuk memudahkan urusan pemerintahan Brunei dibagi 4 daerah diantaranya, daerah Brunei dan Muara, daerah Tutong, daerah Kuala Belait dan daerah Seria.  

Pemerintahan negara Brunei, sebagaimana tercatat dalam kanun Brunei dan pernah dijalankan sebelum menyebarluasnya sistem atau gaya pemerintahan ala barat (Inggris), adalah suatu pemerintahan yang terdiri dari Sultan, jema’ah perunding, dan penasihat, yaitu duli-duli wajir, pangiran bendahara, pangiran di-gadong, pangiran temenggong, pangiran pamancha, kadhi besar, dan beberapa orang ceteria (sebutan orang Melayu untuk Satria).

Dimulai pada zaman pemerintahan Sultan Muhammad Hasan (1582-1598) Brunei mempunyai pemerintahan yang berbentuk piramida, dengan sultan berada pada puncaknya, sedang dibawahnya adalah empat orang wajir, yakni pangiran bendahara, pangiran di-gadong, pangiran temenggong, dan pangiran pamancha.

Upaya mencapai kemerdekaan Brunei semakin menggelora setelah pada tahun 1952. Azahari kembali dari Indonesia dan kemudian aktif menjadi pemimpin dalam memperjuangkan hasrat bangsa Brunei. Berbekal dukungan kuat masyarakat Brunei, pada januari 1955 Azahari secara resmi mengumumkan pendirian Partai Rakyat Brunei (PRB). Brunei baru mengumumkan kemerdekaannya pada 1 Januari 1984, dengan menempuh perjuangan melalui jalur diplomasi pihak kerajaan. Setelah Brunei merdeka, kerajaan berusaha menjadikan Islam sebagai landasan undang-undangnya dalam falsafah negara, yang disebut Melayu Islam Beraja (MIB).


3.      PERKEMBANGAN ISLAM DI KAMBOJA & VIETNAM
A.    Masuknya Islam di Kamboja
Komunitas Camp adalah warga kerajaan Campa, suatu kerajaan besar di Asia Tenggara pada abad ke-17. Kontak dagang dengan berbagai negara tetangga telah membuka jalan bagi masuknya agama Islam di kerajaan ini. Islam masuk ke Campa diperkirakan pada tahun 1607. Banyak warga Campa yang kemudian memeluk Islam. Tak hanya warga biasa, keluarga kerajaan banyak yang memeluk Islam.
Campa, terletak di Vietnam Tengah, di garis lintang 17 utara hingga ke Saigon, merupakan sebuah kerajaan tertua yang pernah ada dan disinggung dalam teks Cina pada akhir abad ke-11 Masehi. Di bagian akhir tulisannya tentang Kedatangan Islam ke Campa “The Introduction of Islam to Campa”, Doctor Pierre-Yves menyatakan bahwa yang menyakinkan ialah bahwa pemerintah Campa memeluk Islam pada akhir abad ke-17 Masehi.
Kemudian oleh karena gangguan Vietnam, proses pengislaman itu berlaku sebagian saja dan tidak menyeluruh. Seandainya golongan pendatang Camp ke Kamboja diambil maka hampir 80% dari keseluruhan penduduk Camp memeluk agama Islam.
Untuk melihat fenomena itu lebih dekat boleh diberikan perhatian kepada hubungan negeri itu dengan negeri-negeri yang berdekatan di Dunia Melayu. Sebagaimana yang boleh diperhatikan ialah adanya kawasan kediaman orang Campa di Melaka di akhir abad ke 15 Masehi.
Bukti-bukti tentang adanya hubungan negeri Campa dengan kawasan lain Asia, khususnya Asia Tenggara, menunjukkan dan menyanggahi kenyataan yang menyebutkan hilangnya negeri Campa dari sejarah, setelah kejatuhan ibu kota negerinya, Vijaya, pada tahun 1471; dan mereka masih kuat pada akhir abad ke-16 Masehi sehingga ia mengirim tentara bantuan ke negeri Johor, dan para pedagangnya terus menerus pada abad ke-17 Masehi mengunjungi pelabuhan-pelabuhan Asia Tenggara. Kelemahan berjalan sedikit demi sedikit, antara tahun 1691 dan 1697 akibat serangan orang Vietnam, yang menjadikannya satu wilayah Binh-thuan, di bawah Nguyen, dan pelabuhan Campa terakhir masuk ke tangan mereka. Terasing daripada kawasan lain di Asia, mereka mundur ke kawasan pedalaman, dan masih eksis dalam alam yang menentangnya, di bawah otoritas kerajaan yang kecil yang dilantik oleh Hue, dan dikontrol oleh kekuasaan Vietnam.
Bukti-bukti itu menunjukkan proses bagaimana negeri itu menjadi negeri Islam. Mulai dari tumbuhnya kerajaan Melaka, Orang Melayu memainkan peranan yang mendominasi di dalamnya; pertama melalui kerajaan Melaka itu sendiri, kemudian Johor, di mana kesultanan masih ada selepas kejatuhan Melaka, kemudian melalui kawasan-kawasan pendudukan Melayu yang memainkan peranannya, terutama sekali pada Kamboja, yang selalu ada hubungan dengan kawasan pendudukan orang Camp yang menerima agama Islam dengan hubungan ini. Dengan cara yang sama, Orang Melayu yang berpindah datang ke Campa nampaknya memainkan peranan mendatangkan pengaruh ke atas Orang Campa.
Jelaslah, orang Campa, sebagaimana Orang Melayu, adalah penganut Ahlis-Sunnah wal-Jamaah, dari segi fiqhnya kepada mazhab Imam Syafi’i. Memang kenyataannya, orang Campa ini berhubungan dengan dunia Melayu, yang mereka memang merupakan bagian dari segi budaya dan agamanya.
Secara ringkas boleh dilihat dengan nyata kedudukan Campa yang strategis karena terletak di jalan perdagangan laut antara negeri Cina dan Nusantara; berhubungan dengan kekuatannya dikatakan ia mempunyai angkatan tentara perkasa, khususnya tentara laut yang dikenali sebagai Orang Riak (orang ombak) berarti dalam istilah Melayu Orang Laut. Negeri ini pernah mencapai kegemilangannya di abad ke-10 hingga ke-15 Masehi. Tetapi kemudian ia menghadapi ancaman perluasan daerah dari Diet-Viet (Orang Vietnam) yang menjadi bebas kekuasaannya pada abad ke-10 Masehi; akhirnya pihak Diet-Viet ini berhasil menaklukkan Campa tahun 1069, 1307, 1471, 1611, 1653, dan 1659 Masehi.
Pada awal abad ke-19 berlaku perubahan politik antara Pandurangga-Campa dengan istana Hue (Vietnam). Dengan itu maka Maharaja Minh Menh (Vietnam) membuat keputusan menghapuskan Campa dari peta Indocina dan meng“Vietnam”kan orang-orang Campa yang berkebudayaan Melayu dan beragama Islam menjadikan mereka berkebudayaan dan mengikuti kepercayaan Vietnam.
Setiap orang mengetahui bahwa negeri Campa terletak dari segi geografinya di Semenanjung Indochina, tetapi negeri ini berkebudayaan Melayu. Penduduknya bertutur dalam kumpulan bahasa Austronesia, agak mirip dengan bahasa Melayu. Mereka beragama Islam (beraliran Ahlus-Sunnah wal-Jamaah). Campa adalah sebuah negeri rumpun Melayu.
Hubungan Campa dengan dunia Melayu sudah sejak zaman purba kala. Pada abad ke-7 Masehi, dalam sumber Campa sudah menyebut tentang serangan Jawa di Pantai Campa. Pada abad berikutnya, hubungan di antara ke dua negeri ini menjadi baik, karena Campa membuat hubungan persahabatan dengan penguasa Sriwijaya dan Majapahit dan terakhir dengan Kesultanan Melaka. Hubungan tersebut dapat dilihat pada beberapa peristiwa seperti lawatan pembesar Campa ke Sriwijaya pada akhir abad ke-9 Masehi, kehadiran kedutaan Sriwijaya di Campa pada abad ke-10 Masehi, perkawinan Raja Campa dengan puteri Jawa di akhir abad ke-13 Masehi, dan perkawinan adik perempuan Raja Campa dengan Raja Majapahit di abad ke-15 Masihi.
Berikut dengan kemunculan Melaka di permulaan abad ke-15 Masehi, satu perubahan besar telah berlaku dalam politik dan perdagangan Campa dengan Nusantara. Campa lebih memusatkan perhatiannya kepada perhubungan dengan penguasa Melaka. Di masa itu Melaka menjadi pusat perdagangan antarabangsa di mana terdapat banyak kapal-kapal dagang Campa datang untuk berdagang. Melaka juga pernah menjadi tempat perlindungan kepada pelarian dari kalangan pembesar Campa, setelah kejatuhan ibu kota Vijaya (Campa) pada tahun 1471 Masehi ditangan Dai Viet (Vietnam). Pada akhir abad ke-15 Masehi dan permulaan abad ke-16 Masehi pembesar-pembesar Campa telah memperoleh banyak keistimewaan dari Sultan Melaka. Kerena menurut sumber Melayu, pada akhir abad ke-15 Masehi (1594) Raja Campa mengirimkan bala tentaranya kepada Sultan Johor untuk menyerang Portugis. Pada abad ke-17 Masehi Campa menerima pendakwah-pendakwah Melayu dari Semenanjung Tanah Melayu untuk menyebarkan agama Islam.

B.     Sekilas Sejarah Campa
Sebelum terbentuknya kerajaan Campa, didaerah tersebut sudah terdapat kerajaan Lin-Yi (Lam Ap), akan tetapi sampai saat ini belum diketahui dengan jelas hubungan antara Lin-yi dan Campa.
Kerajaan Campa merupakan sebuah kerajaan yang tertua di Asia Tenggara. Ini dapat diketahui berdasarkan dari sumber Cina sejak tahun 192 Masehi. Rakyatnya terdiri dari beberapa etnik termasuk etnik Camp yang merupakan satu etnik dalam rumpun Melayu-polinesia atau Austronesia. Dalam sepanjang sejarah orang Camp, ramai meninggalkan tanah airnya yang tercinta mereka, disebabkan perluasan wilayah Vietnam ke selatan yaitu Nam tien (Dai Viet). Mereka mencari tempat perlindungan yang aman untuk terus hidup. Kebanyakan mereka menetap di Kamboja. Peristiwa yang berlaku dalam suku ketiga abad ke-20 telah menyebabkan mereka yang masih tinggal di Kamboja dan Vietnam berhijrah sekali lagi ke negara-negara lebih jauh untuk meyelamatkan diri. Kali ini mereka ke Malaysia dan juga ke Eropah, Amerika, Indonesia dan Oceania.
Masyarakat Camp telah menghuni negara Khmer semenjak abad ke-11. Hubungan antara Campa dan Khmer ada disebut dalam inskripsi termasuk yang menyatakan bahwa seorang putera raja dari Campa telah mengawini seorang puteri Khmer. Walau bagaimanapun sebagian besar orang Camp tiba di Kamboja selepas kejatuhan Vijaya, ibu negara Campa pada tahun 1471.

C.    Masuknya Islam di Vietnam dan Runtuhnya Kerajaan Campa
Perluasan wilayah Vietnam ke Selatan, Nam-tien (Dai Viet) yang bermula tidak lama setelah terbentuk kerajaan Viet secara rasmi pada tahun 939 Masehi. Serangan pertama yang dilakukan oleh negeri Viet di utara pada tahun 982. Dalam serangan ini, Indrapura, ibu kota pertama Campa telah dimusnahkan. Dari tahun 982 Masehi ini maka bermula pergerakkan Vietnam ke selatan yang mengancam keselamatan pusat kekuasaan Campa. Ini bererti Campa terpaksa mundur ke selatan dan ibu kotanya terpaksa dipindahkan jauh ke selatan pada tahun 1000 masehi. Selepas itu Campa terus menerus ditekan oleh serangan Vietnam ke selatan sehingga tahun 1471 ibu kotanya, Vijaya, diserang pula, dimusnahkan dan dihancurkan secara sistematik, apa saja yang bersifat kebudayaan Campa. Orang Viet juga membunuh dan mengusir orang Campa ke kawasan lain di selatan. Hanya sebahagaian kecil rakyat Campa bisa menyelamatkan diri dengan melarikan diri ke Kamboja. Tahun 1471 menandakan kemenangan secara mutlak masyarakat berpengaruh Cina ke atas masyarakat berpengaruh Hindu yang sejak abad ke–2 masehi menguasai bagian timur semenanjung Indocina.
Pada tahun 1653, Vietnam menaklukkan Kauthara dan pada tahun 1692, dan bagian lain di selatan yang disebut Panduranga yang merupakan kawasa-kawasan terakhir Campa. Oleh kerana adanya perlawanan hebat orang-orang Cam, maka kerajaan Vietnam yang waktu itu berpusat di Hue menguasai Campa semula, baru pada tahun 1694 menguasai kawasan Panduranga. Akhirnya pada tahun 1832, zona otonomi Campa dihapuskan dan dirampas oleh kerajaan Vietnam. Identitas kerajaan Campa terhapus pada tahun 1835 untuk selama-lamanya.
Serangan suku Viet, yaitu suku mayoritas yang membentuk negara Vietnam, ke selatan ini memaksa masyarakat Campa, khususnya masyarakat Camp melarikan diri dari tanah airnya untuk menyelamatkan diri mereka dan mencari perlindungan di kerajaan-kerajaan lain di mana rasa keselamatannya terjamin.
Mereka mencari perlindungan di Kamboja, Semenanjung Tanah Melayu (Kelantan, Johor dan Melaka) dan pulau-pulau lain di Nusantara yaitu Sumatra dan Kalimantan. Daerah-daerah tersebut pernah menjalin berbagai bentuk hubungan dengan kerajaan Campa. Kehadiran sebagian besar kaum Campa di Kamboja adalah selepas 1471 yakni selepas penaklukan Vijaya oleh orang Viet, pernah disinggung dalam kronikel Khmer. Diamana kehadiran kumpulan besar yang berikutnya adalah pada tahun 1692-1693 selepas Vietnam menduduki wilayah Phanrang.
Tindakan Maharaja Ming Menh yang menghapuskan identitas Kerajaan Campa pada tahun 1832 telah mengakibatkan dua pemberontakan oleh orang Campa untuk menuntut kembali wilayah mereka. Akan tetapi kedua pemberontakan tersebut dapat dikalahkan oleh Minh Menh. Di antara ahli masyarakat Campa itu ada yang dituduh, ditangkap dan dihukum oleh Maharaja Ming Menh. Masyarakat Cam melarikan diri ke Kamboja setelah Panduranga (Campa) ditakluk buat selama-lamanya pada 1835.

D.    Budaya dan Agama
Penduduk Campa pada mulanya beragama Hindu. Kemudian pada abad ke-11 sampai abad ke-17 terjadi kontak dengan pedangan-pedagang muslim. Karena adanya gangguan dari Dai Viet, proses pengislaman itu menjadi tidak menyeluruh. Walaupun begitu, jumlah orang Campa yang beragama islam hampir seluruhnya. Jumlah orang Campa penganut islam di Kamboja lebih 80% dari total orang Campa. Kecuali orang Campa yang berada di Vietnam (Annam), penganut islam hanya sekitar sepertiga dari jumlah populasi masyarakat Campa yang ada.
Penduduk Campa yang muslim kini tinggal berdampingan dengan orang Khmer yang beragama budha, disamping juga berdampingan dengan sesama orang Campa tapi penganut hindu. Sampai saat ini, setelah kawasan indocina dikuasai komunis, kehidupan beragama dan jumlah penduduk Campa yang tinggal di Vietnam dan Kamboja hanya diperkirakan sekitar 100.000 orang.
Orang Camp di Kamboja tidak mengijinkan perkawinan antar agama kecuali dengan syarat bahwa pihak yang bukan islam masuk islam. Oleh karena orang Khmer boleh dikatakan tak pernah akan meninggalkan agama budha, tiada kemungkinan bahwa kedua bangsa akan terpadu, sedang orang Cam dengan orang Melayu perkawinan sering terjadi. Perceraian lebih sulit dan lebih jarang terjadi daripada di Annam. Perkawinan mereka hampir selalu subur, akan tetapi Orang Cam di Kamboja bertambah banyak jumlahnya dengan mengangkat anak asing kedalam sukunya, yaitu anak bangsa Annam atau lebih-lebih lagi anak Khmer yang diterimanya sebagai pembayaran hutang yang tak terlunasi, dan akan dididiknya dalam agama islam.
Di Annam, negeri kelahiran orang Camp, orang-orang Cam islam tidak lebih hanya segenggam jumlahnya, berperangai lemah lembut, tiada bersemangat, sengsara, hidup merana, dan jika tidak semakin berkurang jumlahnya bertambah pun tidak. Tingkat kecerdasannya yang sangat rendah tercermin pada cara mereka mengubah system agamanya, sekurang-kurangnya mereka dapat dijadikan contoh bahwa dalam jiwa yang gelap dan tidak bertenaga, islam sebagai agama kehilangan sifatnya yang militant yang menurut pendapat umum yang dimilikinya, sedangkan lebih tepat menganggap watak berperang tersebut sebagai warisan bangsa-bangsa yang pertama melahirkan atau menganut agama islam. Agama islam di Annam, tidak murni lagi, banyak yang tercemar oleh praktek sihir dan bekas-bekas kepercayaan pribumi. Dalam praktek keagamaan, para imam (penghulu) di Annam (Binh Thuan), bukan saja tidak mengerti bahasa arab melainkan juga sukar pula membaca aksara arab. Surah-surah dan do’a-do’a dihapalnya diluar kepala tetapi dilafalkannya dengan sangat berbeda dengan aslinya

4.      LAOS
A.    Masuknya Islam di Laos
Laos adalah satu-satunya negara Asia Tenggara yang terjepit dan tidak punya wilayah laut. Laos berada di sebelah barat Vietnam, batas sebelah utara adalah Cina. Negara tetangga lain adalah Thailand di sebelah selatan dan Myanmar di barat laut. Luas wilayah Laos adalah 236.800 km2. Sekitar 70% wilayah Laos berbentuk pegunungan dan terdapat Gunung Biawilayah ini ditutupi oleh berbagai setinggi 2.819 meter yang merupakan gunung tertinggi di negara ini. Sekitar 55 persen jenis hutan, yaitu hutan hujan tropis, hutan bambu, dan hutan yang tercampur dengan vegetasi trop.             
Berdasarkan letak astronomisnya, Laos beriklim tropis dengan suhu rata-rata tahunan antara 26 C-28 C. curah hujan rata-rata a1.500 – 2.500 mm per tahun. Laos memiliki 3 musim. Musim hujan pada bulan Juni-Oktober akibat pengaruh angin musim barat daya. Musim kemarau yang sejuk terjadi pada bulan – Februari karena pengaruh angin musim timur. Pada bulan Maret – Mei terjadi musim pancaroba yang kering. Laos adalah negara yang terhimpit oleh daratan di Asia Tenggara dan diselimuti hutan lebat yang kebanyakan bergunung-gunung, di mana salah satunya yang tertinggi adalah Phou bia dengan ketinggian 2.817 m dari permukaan laut. Laos juga memiliki beberapa dataran rendah dan dataran tinggi. Sungai Mekong membentuk sebagian besar dari perbatasannya dengan Thailand, sementara rangkaian pegunungan dari Rantai Annam membentuk sebagian besar perbatasan timurnya dengan Vietnam. Pada pertengahan tahun 2006, penduduk Laos mencapai 6,1 juta jiwa dengan pertumbuhan penduduk alami rata-rata setiap tahun 2,3%. Kepadatan penduduknya adalah 23 jiwa per km2. Angka kelahiran per tahun adalah 36 sedangkan angka kematian per tahun 13 per 1.000 penduduk.Suku bangsa yang paling dominan di Laos adalah suku Lao. Suku bangsa lainnya adalah Thai, Meo, Yao,Mon Khimer, cina.Dengan presentase Lao (48%), Mon Khmer (25%), Thai (14%), Meo dan Yao (13%).[1] Sampai abad 21 islam merupakan suatu kekuatan politik yang patut diperhitungkan di asia tenggara ia merupakan agama kerajaan brunei darusalam. Agama resmi federasi malaysia sebanyak 55%  pemeluk dari seluruh jumlah penduduk malaysia, di indonesia jumlah pemeluk agama islam mencapai 90%, di myammar agama islam dipeluk oleh kelompok minoritas burang lebih sebanyak 3,9% dari jumlah penduduk myammar secara keseluruhan, thailand sebanyak 4%, di philipina pemeluk islam berjumlah 9%, sedangkan di singapura penduduk dengan beragama islam berjumlah sebanyak 16% dari jumlah penduduk islam secara keseluruhan.[2] Sulit memang menemukan Muslim di Laos. Namun, bukannya tidak ada. Laos memang dikenal sebagai negara di Asia Tenggara yang populasi Muslimnya paling sedikit. Saat ini, Muslim yang tinggal di wilayah bekas jajahan Prancis itu tak sampai 800 orang.
Laos dikenal sebagai salah satu Negara dengan sistem pemerintahan komunis yang tersisa di dunia dengan mayoritas penduduknya merupakan pemeluk Budha Theravada. Tak heran kalau Laos merupakan negara dengan penduduk Muslim paling sedikit di Asia Tenggara. Agama Islam pertama kali masuk ke Laos melalui para pedagang Cina dari Yunnan. Para saudagar Cina ini bukan hanya membawa dagangannya ke Laos, namun juga ke negara tetangganya seperti Thailand dan Birma. Oleh masyarakat Laos dan Thailand,  para pedagang asal Cina ini dikenal dengan nama Chin Haw. Peninggalan kaum Chin Haw yang ada hingga hari ini adalah  beberapa kelompok kecil komunitas Muslim yang tingal di dataran tinggi dan perbukitan. Mereka menyuplai kebutuhan pokok masyarakat perkotaan. Di sini, mereka memiliki masjid besar kebanggaan. Letaknya di ruas jalan yang terletak di belakang pusat air mancur Nam Phui. Masjid ini dibangun dengan gaya neo-Moghul dengan ciri khas berupa menara gaya Oriental. Masjid ini juga dilengkapi pengeras suara untuk adzan. Ornamen lain adalah tulisan-tulisan di dalam masjid ini ditulis dalam lima bahasa, yaitu Arab, Tamil, Lao, Urdu, dan Inggris. Selain kelompok Muslim Chin Haw, ada lagi kehadiran kelompok Muslim lainnya di Laos yaitu komunitas Tamil dari selatan India.
Muslim Tamil dikenal dengan nama Labai di Madras dan sebagai Chulia di Malaysia dan Phuket. Mereka masuk Vientiane melalui Saigon yang masjidnya memiliki kemiripan dengan masjid mereka di Tamil. Para jamaah Muslim India Selatan inilah yang mendominasi masjid di Vientiane. Meski demikian, masjid ini juga banyak dikunjungi jamaah Muslim dari berbagai negara. Jamaah tetap di masjid ini termasuk para diplomat dari negara Muslim di Vientiane, termasuk dari Malaysia, Indonesia, dan Palestina. Laos merupakan salah satu negara yang kaya dengan keberagaman etnis. Setengah populasinya yang mencapai empat setengah juta orang berasal dari etnis Lao atau yang dikenal masyarakat lokalnya sebagai Lao Lum. Selain mendominasi dari segi jumlah penduduk, mereka juga mendominasi pemerintahan dan komunitas masyarakatnya. Mereka yang berasal dari etnis ini memiliki kedekatan kekerabatan dengan penduduk kawasan timur laut Thailand. Mereka berasal dari dataran rendah Mekong yang hidup mendominasi di Vientiane dan Luang Prabang. Secara tradisional, mereka juga mendominasi pemerintahan dan masyarakat Laos.[3] Saat ini, sebagian besar Muslim di Vientiane merupakan pembisnis. Mereka berjaya di bidang tekstil, ekspor-impor, atau melayani komunitas mereka sendiri dengan menjadi penjual daging atau pemilik restoran halal. Beberapa restoran terletak di kawasan Taj off Man Tha Hurat Road, dan dua atau tiga restoran halal lainnya berdiri di persimpangan jalan Phonxay dan Nong Bon Roads. Selain melayani komunitas Muslim, mereka juga menyediakan jasa ketring bagi petugas kedutaan yang beragama Islam. Sisanya, para pekerja Muslim lokal di Vientiane bekerja di bagian tesktil di berbagai pasar di kota ini, seperti di Talat Sao atau pasar pagi, di persimpangan jalan Lan Xang, dan Khu Vieng. Selain di Vientiane, ada lagi komunitas Muslim lainnya di Laos. Namun mereka berjumlah lebih sedikit dan memutuskan tinggal di kota kecil di luar Vientiane.
Sebagian orang menyatakan ada sebuah masjid kecil di Sayaburi, di tepi barat Mekong tidak jauh dari Nan. Sayaburi dulu pernah dinyatakan sebagai daerah tertutup bagi orang asing. Muslim Laos didominasi oleh para pendatang dari kawasan Asia Selatan dan juga Muslim Kamboja. Khusus untuk Muslim Kamboja, mereka adalah para pengungsi dari rezim Khmer berkuasa. Mereka melarikan diri ke Negara tetangga mereka (Laos), setelah pemimpin rezim Pol Pot menyerukan gerakan pembersihan masal etnis Kamboja Cham Muslim dari tanah Kamboja. Sebagai pengungsi, kehidupan mereka terbilang miskin. Selain itu mereka mengalami trauma akibat pengalaman hidup di bawah tekanan Khmer sejak 1975. Semua masjid di Kamboja dihancurkan. Mereka juga dilarang untuk beribadah atau berbicara dalam bahasa Kamboja dan banyak di antara mereka dipaksa untuk memelihara babi.
B.     Keadaan Laos Sekarang
Sejarah pahit mengiringi kepergian Muslim Kamboja ke Laos. Mata imam masjid Kamboja di Vientiane, Musa Abu Bakar, berlinang air mata ketika menceritakan kematian seluruh anggota keluarganya dari kelaparan. Mereka dipaksa makan rumput, sementara satu-satunya daging yang mereka dapatkan dari tentara Khmer hanyalah daging babi, yang diharamkan oleh Islam. Beberapa orang Kamboja, seperti mereka yang di Vientiane, kemudian melarikan diri dari kampung halamannya. Sementara sisanya berhasil bertahan dengan cara menyembunyikan identitas etnis mereka dan juga keislamannya. Dari suluruh populasi Muslim Kamboja, diperkirakan tujuh puluh persennya tewas akibat kelaparan dan pembantaian.  Kini di Laos diperkirakan ada sekitar 200 orang Muslim Kamboja. Mereka memiliki masjid sendiri yang bernama Masjid Azhar atau yang oleh masyarakat lokal dikenal dengan nama Masjid Kamboja. Masjid ini berlokasi di sebuah sudut di distrik Chantaburi  Vientiane. Meski berjumlah sangat sedikit dan tergolong miskin, mereka teguh memegang agama. Umumnya, mereka adalah penganut mahzab Syafii, berbeda dengan komunitas Muslim Asia Selatan di Vientiane yang menganut mazhab Hanafi.  

5.      PHILIPINA
A.    Mausknya Islam di Philipina
Islam di asia menurut Dr. Hamid mempunyai 3 bentuk penyebaran. Pertama, penyebaran Islam melahirkan mayoritas penduduk. Kedua, kelompok minoritas Islam. Ketiga, kelompok negera negara Islam tertindas. Dalam bukunya yang berjudul Islam Sebagai Kekuatan International, Dr. Hamid mencantumkan bahwa Islam di Philipina merukan salah satu kelompok ninoritas diantara negara negara yang lain. Dari statsitk demografi pada tahun 1977, Masyarakat Philipina berjumlah 44. 300.000 jiwa. Sedangkan jumlah masyarakat Muslim 2.348.000 jiwa. Dengan prosentase 5,3% dengan unsur dominan komunitas Mindanao dan mogondinao.
Hal itu pastinya tidak lepas dari sejarah latar belakang Islam di negeri philipina. Bahkan lebih dari itu, bukan hanya penjajahan saja, akan tetapi konflik internal yang masih berlanjut sampai saat ini.
Sejarah masuknya Islam masuk ke wilayah Filipina Selatan, khususnya kepulauan Sulu dan Mindanao pada tahun 1380 M. Seorang tabib dan ulama Arab bernama Karimul Makhdum dan Raja Baguinda tercatat sebagai orang pertama yang menyebarkan ajaran Islam di kepulauan tersebut. Menurut catatan sejarah, Raja Baguinda adalah seorang pangeran dari Minangkabau (Sumatra Barat). Ia tiba di kepulauan Sulu sepuluh tahun setelah berhasil mendakwahkan Islam di kepulauan Zamboanga dan Basilan. Atas hasil kerja kerasnya juga, akhirnya Kabungsuwan Manguindanao, raja terkenal dari Manguindanao memeluk Islam. Dari sinilah awal peradaban Islam di wilayah ini mulai dirintis. Pada masa itu, sudah dikenal sistem pemerintahan dan peraturan hukum yaitu Manguindanao Code of Law atau Luwaran yang didasarkan atas Minhaj dan Fathu-i-Qareeb, Taqreebu-i-Intifa dan Mir-atu-Thullab. Manguindanao kemudian menjadi seorang Datuk yang berkuasa di propinsi Davao di bagian tenggara pulau Mindanao.
Setelah itu, Islam disebarkan ke pulau Lanao dan bagian utara Zamboanga serta daerah pantai lainnya. Sepanjang garis pantai kepulauan Filipina semuanya berada dibawah kekuasaan pemimpin-pemimpin Islam yang bergelar Datuk atau Raja. Menurut ahli sejarah kata Manila (ibukota Filipina sekarang) berasal dari kata Amanullah (negeri Allah yang aman). Pendapat ini bisa jadi benar, mengingat kalimat tersebut banyak digunakan oleh masyarakat sub-kontinen.
B.     Keadaan Philipina Sekarang
Kemerdekaan yang didapatkan Filipina (1946 M) dari Amerika Serikat ternyata tidak memiliki arti khusus bagi Bangsa Moro. Hengkangnya penjajah pertama (Amerika Serikat) dari Filipina ternyata memunculkan penjajah lainnya (pemerintah Filipina). Namun patut dicatat, pada masa ini perjuangan Bangsa Moro memasuki babak baru dengan dibentuknya front perlawanan yang lebih terorganisir dan maju, seperti MIM, Anshar-el-Islam, MNLF, MILF, MNLF-Reformis, BMIF. Namun pada saat yang sama juga sebagai masa terpecahnya kekuatan Bangsa Moro menjadi faksi-faksi yang melemahkan perjuangan mereka secara keseluruhan. Pada awal kemerdekaan, pemerintah Filipina disibukkan dengan pemberontakan kaum komunis Hukbalahab dan Hukbong Bayan Laban Sa Hapon. Sehingga tekanan terhadap perlawanan Bangsa Moro dikurangi. Gerombolan komunis Hukbalahab ini awalnya merupakan gerakan rakyat anti penjajahan Jepang. Setelah Jepang menyerah, mereka mengarahkan perlawanannya ke pemerintah Filipina. Pemberontakan ini baru bisa diatasi di masa Ramon Magsaysay, menteri pertahanan pada masa pemerintahan Eipidio Qurino (1948-1953). Tekanan semakin terasa hebat dan berat ketika Ferdinand Marcos berkuasa (1965-1986). Dibandingkan dengan masa pemerintahan semua presiden Filipina dari Jose Rizal sampai Fidel Ramos maka masa pemerintahan Ferdinand Marcos merupakan masa pemerintahan paling represif bagi Bangsa Moro.
Pembentukan Muslim Independent Movement (MIM) pada 1968 dan Moro Liberation Front (MLF) pada 1971 tak bisa dilepaskan dari sikap politik Marcos yang lebih dikenal dengan Presidential Proclamation No. 1081 itu. Perkembangan berikutnya kita semua tahu. MLF sebagai induk perjuangan Bangsa Moro akhirnya terpecah. Pertama, Moro National Liberation Front (MNLF) pimpinan Nurulhaj Misuari yang berideologikan nasionalis-sekuler. Kedua, Moro Islamic Liberation Front (MILF) pimpinan Salamat Hashim, seorang ulama pejuang, yang murni berideologikan Islam dan bercita-cita mendirikan negara Islam di Filipina Selatan. Namun dalam perjalanannya, ternyata MNLF pimpinan Nur Misuari mengalami perpecahan kembali menjadi kelompok MNLF-Reformis pimpinan Dimas Pundato (1981) dan kelompok Abu Sayyaf pimpinan Abdurrazak Janjalani (1993). Tentu saja perpecahan ini memperlemah perjuangan Bangsa Moro secara keseluruhan dan memperkuat posisi pemerintah Filipina dalam menghadapi Bangsa Moro. Ditandatanganinya perjanjian perdamaian antara Nur Misuari (ketua MNLF) dengan Fidel Ramos (Presiden Filipina) pada 30 Agustus 1996 di Istana Merdeka Jakarta lebih menunjukkan ketidaksepakatan Bangsa Moro dalam menyelesaikan konflik yang telah memasuki 2 dasawarsa itu. Disatu pihak mereka menghendaki diselesaikannya konflik dengan cara diplomatik (diwakili oleh MNLF), sementara pihak lainnya menghendaki perjuangan bersenjata/jihad (diwakili oleh MILF). Semua pihak memandang caranyalah yang paling tepat dan efektif. Namun agaknya Ramos telah memilih salah satu diantara mereka walaupun dengan penuh resiko. “Semua orang harus memilih, tidak mungkin memuaskan semua pihak,” katanya. Dan jadilah bangsa Moro seperti saat ini, minoritas di negeri sendiri.

6.      SINGAPURA
A.    Masuknya Islam di Singapura
Pada awal abad pertengahan sampai abat ke 19, penduduk islam bertambah banyak, hal ini tidak terlepas dari peran seorang mubaligh sufi Hadramaut di Yaman dan dari bagian-bagian selatan India dan cina yang berdagang ke Singapura. Pada saat itu Singapura  terkenal  sebagai tempat yang maju yang di singgahi banyak kapal dari berbagai bangsa-bangsa lain yang menjadikannya tempat perdagangan. Kemudian pada saat yang bersamaan, islam pun tumbuh dan berkembang yang di tandai dengan bergolaknya pelbagai kegiatan.
Islam masuk ke Singapura pada abad ke- 8 karena pada abad tersebut para pedagang muslim ini telah sampai ke Kanton, China, yang kemungkinan besar akan selalu singgah di pulau-pulau yang telah berpenduduk di semenanjung tanah Melayu ini. Disamping sebagai pedagang, para muslim ini tampaknya telah menjadi guru-guru agama serta imam di tengah-tengah kelompok masyarakat setempat, mereka mengajarkan Al-Qur’an dan mendirikan madrasah-madrasah sehingga orang-orang kampung senang pada kegiatan semacam itu, dan tidak sedikit dari mereka yang pada akhirnya menikah dan memperistri penduduk setempat. sehingga terjadilah sebuah keluarga yang berkembang makin waktu kewaktu terus berkembang. Ada juga dari para pedagang Arab yang membawa istri dan anak-anaknya tinggal bermukim di sana. Bagi yang belum membawa keluarga setelah dapat ongkos mereka baru membawa keluarganya . mereka terus menjadi orang Arab- Melayu dan “Jawi Peranakan “ yang keturunan India Melayu yang tersendiri.

            Islam di Singapura disyarkan oleh para ulama dari berbagai bangsa belahan Asia Tenggara dan benua kecil India yang berdagang ke sana. Seperti Syaikh Ahmad Haminuddun (Minamgkabau), Syaikh Tuanku Mudo (Aceh), syaikh Ahmad Hminudin, Syaikh Syed Usman bin Yahya bin Akil (mufti Betawi), Syaikh HabibAli Habsi (Kwitang, Jakarta), Syaikh Anwar Sribandung (Palembang), syaikh Muhammad Jamil Jaho (Padang Panjang) dan lain-lain.
Masuknya islam di Singapura boleh di katakana tidak ada hambatan, walaupun ada, itu magkin hany bagian kecilnya, baik dati segi politik dan birokrasi . muslim di Singapura mencapai lebih kurang 15% dari jumlah penduduk yaitu, lebihkurang 476.000 orang islam. Perilaku kehidupan sehari-hari keluarga muslim melayu di Singapura adalah pencerminan yang sangat kuat dari pengaruh guru-guru agama dan imam-imam masjid. Mereka terbiasa dalam kegiatan-kegiatan ritual keagamaan dan sosial secara kolektif, mayoritas masyarakat Singapura bermazhab syafi’iyah dan sebagian kecil syi’ah.
Pusat kegiatan islam lebih kurang 80% di mesjid-mesjid yang ada di sana. 1 Juli 1968 di bentuklah MUIS (Majlis Ulama Islam Simgapura) yang mampunyai tanggung jawab besar atas aktivitas ke agamaan , kesehatan, kesejahteraan, pendidikan, ekonomi, masyakat dan sejarah kebudayaan islam.

B.     Perkembangan Islam di Singapura Sampai Sekarang
Sebagai Negara yang berdiri setelah perang dunia II singapura meurpakan Negara paling Maju di kawasan Asia Tenggara. Singapura memiliki Ekonomi atau Prekonomian Pasar yang sangat maju, yang secara historis berputar di sekitar perdagangan Interpot Bersama Hong Kong, Korea Selatan dan Taiwan, Singapura adalah satu dari Macan Asia . Ekonominya sangat bergantung pada ekspor dan pengolahan barang impor, khususnya di bidang manufaktur yang mewakili 26% PDB Singapura tahun 2005 dan meliputi sector elektronik, pengolahan minyak Bumi, bahan kimia, teknik mekanik dan ilmu biomedis. Tahun 2006, Singapura memproduksi sekitar 10% keluaran Waferwafer dunia. Singapura memiliki salah satu dari pelabuhan tersibuk di Dunia dan merupakan pusat pertukaran mata uang asing terbesar keempat di dunia setelah London, New York dan Tokyo. Bank Dunia,menempatkan Singapura pada peringkat hub logistik teratas dunia. Namun demikian ditengah kemajuan Singapura sebagai sebuah negara yang menjadi sentral perdaganagan Asia Tenggara dan memiliki perjalanan panjang mengenai perjumpaan dengan Islam. 
Populasi etnis Muslim yang didominasi orang Melayu di Singapura sangatlah sedikit dibandingkan dengan etnis Cina. Ada dua faktor yang memungkinkan terjadinya masayarakat Islam minoritas, Pertama, mereka terbentuk akibat migrasi ke negara-negara dan kawasan yang telah memiliki pemerintahan dan sistem nasional yang kokoh. Kedua, terjadi karena perubahan dan perkembangan geografis dan politik.
Umat Muslim di Singapura kurang maju dibandingkan dengan golongan penduduk lain di semua bidang. Di Bidang Pendidikan, jumlah lulusan universitas hanya 2,5% dari jumlah seluruh lulusan. Persentase Muslim dalam profesi dan jabatan tinggi juga sangat rendah dari rata-rata nasional mereka. Namun, pemerintah biasanya mempunyai satu utusan seorang Muslim dalam kabinet. Sebagian Muslim mempunyai kedudukan tinggi di bidang hukum dan universitas. Adapun secara ekonomi, Muslim Singapura berada di antara yang paling miskin. Pemuda-pemuda Muslim menghadapi banyak kesulitan dalam mencari pekerjaan. Hanya sebagian kecil diantara mereka yag dipanggil untuk dinas militer nasional. Munculnya semangat keislaman di singapura, tidak luput dari adanya gerakan yang didirikan oleh umat Muslim dan peranan pemerintah baru Singapura. Hal itu ditunjukan dengan membentuk Majlis Ugama Islam Singapura (MUIS) dengan berdasarkan akta Pentadbiran Hukum Islam (The Administration of Muslim Law Act) pada tanggal 17 Agustus 1966 oleh parlemen Singapura.MUIS merupakan badan resmi Islam di Singapura yang mengurus masalah keagamaan dan masyarakat Islam. Sebelum MUIS didirikan, pada tahun 1932 umat Muslim Singapura telah mendirikan sebuah organisasi yaitu Masyarakat Dakwah Muslim. Organisasi ini mendirikan Pusat Islam King Faisal Memorial Hall. Selain itu, organisasi ini juga mengadakan klinik pengobatan dan pusat hukum. Organisasi Muslim penting lainnya adalah Masyarakat Muslim Mualaf (Dar-ul-Arqam) yang merupakan organisasi dakwah utama di Singapura dan mengurus serta membawa Islam lebih dari 8.000 orang sejak tahun 1982. Pada Oktober 1991 didirikan sebuah lembaga yang dikembangkan secara swadaya oleh masyaakat, yaitu Association of Muslim Profesional (AMP) yang mencita-citakan munculnya modal masyarakat minoritas Muslim dalam pengembangan diri secara dinamis dan penuh percaya diri dalam konteks berwarga Negara Singapura yang tetap berpegang teguh kepada warisan kultular dan agamanya. Selain lembaga dan organisasi, munculnya semangat keislaman di Singapura adalah didirikannya sekolah yang berbasiskan Islam atau biasa dikenal dengan madrasah. Sampai saat ini di Singapura terdapat 6 buah madrasah Islam di Singapura, 
diantaranya madrasah Al-Irsyad Al-Islamiah, madrasah Al-Maarif Al-Islamiah, madrasah Alsagoff Al-Islamiah, madrasah Aljunied Al-Islamiah, madrasah Al-Arabiah Al-Islamiah, dan madrasah Wak Tanjong Al-Islamiah.Selain itu di Singapura juga benar-benar memberikan kebebasan gerak literatur Islam dalam bahasa Inggris, Melayu dan Tamil yaitu bahasa Muslim India dan kebebasan pergi untuk berhaji, sekitar seribu jamaah setahuannya.
Ada juga pengembangan dalam masyarakatnya,di antara badan-badan yang menyediakan berbagai pelayanan  MENDAKI (Majelis Perkembangan Masyaraka Islam Singapura ), muncul sebagai organisasi utama, dengan berbagai kegiatan yang menyeluruh , dan pendidikan kepada ekonomi. MENDAKI menerima dukungan dan bantuan keuangan dari pemerintah. Badan ini di tumbuhkan pada tahun 1981 atas usaha ahli-ahli parlemen Melayu-islam untuk mengatasi kemerosotan orang Melayu, seperti yang di perliatkan pada tahun 1980. dalam tujuh tahun pertama, mendaki sangat perhatian terhadap soal pendidikan.
Pada tahun 1989, satu seminar diadakan di dewan persidangan singapura, untuk memutar haluan baru bagi MENDAKI. Perlu ada komitmen sepenuhnya dan usaha. Dengan komitmen sepenuhnya orang melayu yang kaya atau yang punya kekayaan untuk membantu saudaranya yang kurang mampu,komitmen dukungan masyarakat terhadap rancangan MENDAKI, komitmen pemerintah sebagai bukti anda mau bekerja sama mencapai aspirasi masyarakat anda.” Para peserta seminar dari berbagai masyarakat islam setuju dengan beliau. Mereka menyokong MENDAKI agar meluaskan kegiatan serta menyususn semula rancangan-rancangannya dengaan menawarkan lebih banyak program pedidikan. Di sampang mengajukan kegiatan sosial dan ekonomi. “ sebagian keberhasilan orang melayu-islam dalam pendidikan adalah di sebabkan oleh Mendaki. 

Kerap di anggap pesaing MENDAKI, AMP dengan segera menyiapkan berbagai  rancangan dari pada bersipat pendidikan kepada kauseling untuk keluarga serta individu dan program-program latihan bagi para pekerja. Pada awal tahun 1994, AMP mendirikan pusat latihan untuk meningkatkan kemahiran pekerja melayu islam. Dan kemajuan kemahiran pemerintah telah menyumbang lebih $2 juta dalam usia ini. Dalam masa tiga tahun akan datang kira-kira 6,600 orang pekerja islam akan menjalani latihan. AMP juga giat dalam usaha niaga, ia mendirikan sarikat pemegangan untuk kegiatan perdagangan dan pembangunan di rantau ini. Sebuah lagi badan melayu sosial islam ialah taman bacaan pemuda pemudi melayu singapura,didirikan tahun 1959 untuk memupuk minat terhadap kesastraan dengan meminjamkan jurnal dan buku kepadaahli-ahlinya. Beberapa tahun kemudian taman bacaan bertukar peranan untuk memenuhi kepeluan masyarakat. Ia mulai mengendalikan bengkel untuk ibu bapak dan pelajar seta rancangan-rancangan pendidikan termasuk aspek-aspek kemahiran,keibubapaan, pengurusan waktu dan kelas-kelas bahasa.
Islam di Singapura yang masih merupakan etnis minoritas dengan sejarah dan perjuangannya yang panjang, mampu membangkitkan semangat keislaman mereka dengan berbagai organisasi dan gerakan-gerakan yang mereka dirikan. Jumlah jamaah haji pertahun meningkat, populasi umat bertambah, sarana dan prasarana dibangun, sekolah-sekolah Islam atau madrasah ditingkatkan dan banyak lagi yang lainnya. Semua ditujukan untuk kemajuan dan semangat umat Muslim di tengah-tengah keminoritasan dalam berwarga negara, meskipun masih kurang dalam berbagai aspek dan diplat sebagai masyarakat kelas dua

7.      TIMOR LESTE
A.    Masuknya Islam di Timor Leste
Meski dari dulu di daerah ini umat Islam menjadi minoritas, saat masih menjadi bagian Indonesia, banyak perhatian dan peningkatan aktivitas dakwah di sana. Timor Leste, yang dahulunya bernama Timor Timur, juga sebagian daerah Nusa Tenggara Timur lainnya mayoritas penduduknya adalah Nasrani. Hal ini disebabkan karena daerah ini lama dikuasai Portugis. Padahal, kedatangan Islam di daerah ini lebih dulu tiba. Namun sayangnya Islam banyak terkikis oleh agama Nasrani yang dibawa Portugis dengan semboyan Gospelnya, yaitu menyebarkan agama Nasrani di wilayah kolonialnya. Islam masuk kewilayah Asia Tenggara melalui berbagai macam cara, terutama melalui jalur perdagangan. Dimana islam masuk melalui pesisir sebagai basis dari para niagawan untuk singgah dan melakukan transaksi disana. Tak ada literatur ataupun sumber hidup yang pasti yang menyebutkan kapan Islam masuk ke negara yang pernah menjadi bagian dari Indonesia ini.
Ada lima pendapat ahli yang menyatakan proses masuknya Islam ke Timor Leste, diantaranya:
Pertama, dikatakan bahwa Islam memasuki Timor Leste bersamaan dengan masuknya Islam di Indonesia. Pendapat ini didukung oleh alur masuknya Islam dari kerajaan Samudra Pasai hingga ke Timur Indonesia.
Kedua, penduduk asli Timor Leste mengatakan bahwa Islam masuk lebih awal di bandingkan dengan bangsa Eropa dan agama lain. Maksudnya adalah Islam masuk sebagai agama pertama di Timor Leste dan dibawa oleh pendatang yang kedatangannya jauh lebih awal daripada kedatangan bangsa Eropa ataupun penjajah Portugis.
Ketiga, pendapat lain mengatakan Islam masuk ke Timor Leste bertepatan dengan masuknya Islam di Indonesia yang dibawa para pedagang Hadramaut. Namun, para pedagang dari Hadramaut saat itu belum menetap, mereka mulai menetap di Dili sejak awal abad ke-17 M. Sejumlah sumber memercayai bahwa pedagang dari Hadramaut yang pertama kali menetap di Dili bernama Habib Umar Muhdhar.
Keempat, sebagian orang mengatakan bahwa Islam masuk di Timor Leste bersamaan dengan datangnya para pedagang Eropa, seperti Portugal, Spanyol, dan Belanda. Ketika melakukan pelayaran ke Indonesia dan Asia Pasifik, para pedagang Arab senantiasa berhubungan dengan pedagang-pedagang Eropa. Mereka berlayar ke Timor Leste melaui Pulau Sumatra, Jawa, Nusa Tenggara, dan Kepulauan Maluku.
Kelima, keturunan Arab di Timor Leste pernah mengatakan dari leluhur mereka bahwa para pedagang Arab itu datang di tanah Timor Dili sejak awal abad permulaan Islam Jazirah Arab. Pada dasarnya umat Islam di daerah Dili adalah bagian dari beberapa tokoh sejarah yang berkembang persebaran Islam di daerah tersebut. Menurut informasi-informasi masyarakat setempat dan juga kalangan keturunan Arab Hadramaut, sebelum bangsa Portugis, Belanda, Jepang, Australia, dan Cina.
Dalam masa Integrasi dengan Indonesia, Keberadaan Umat Islam Di Timor Leste amat  naik secara signifikan, dikarenakan banyak berdatangan dari wilayah Indonesia. Tercatat berdasarkan Statistik Umat islam di Timor Leste yang di Keluarkan Cencistil (Centro de Comunidade Islamica  de Timor Leste). Keadaan jumlah penduduk muslim di Timor Leste mengalami perkembangan yang signifikan, dikatakan bahwa jumlah Muslim pada tahun 1990-an mencapai 31579  jiwa, dimana terdapat 13 Mesjid, 30 Mushala, 21 Madrasah, 20 Lembaga Islam dan 116 Ustazd. Namun perbedaan terjadi disaat Timor Leste berpisah dengan Negara Kesatuan Republik Indonesia, jumlah Muslim Mengalami penurunan yang amat drastis, dianataranya 5.011 Muslim, 3 Mesjid, 5 Mushala, 5 Madrasah, 7 Lembaga Islam dan 21 Ustadz.[3] Perkembangan umat Islam di Timor Leste saat bergabungnya dengan Indonesia dapat di lihat dari pembangunan istitusi Islam, Madrasah, maupun Mesjid yang ada di Timor Leste. Salah satu Mesjid yang dibangun dan menjadi Icon dari Islam Timor Leste adalah Masjid An'nur yang sempat hancur disaat terjadi serangan Jepang pada Perang Dunia II dan di bangun kembali setelahnya. Sejak tahun 1977 sampai 1979, Madrasah Diniyah An-Nur mulai menunjukan perkembangan karena hanya Madrasah An-Nurlah satu-satunya Madrasah tempat menggodok generasi muda di timor Leste, dengan demikian fasilitas dari umat Islam Dili selalu mengalir, anak didik sering mendapatkan bantuan alat-alat tulis dari beberapa pihak, dalam tahap perkembangan selanjutnya dari awal berdirinya madrasah ini pada tahun 1976, kebanyakan pengurus-pengurus madrasah An-Nur ini adalah orang-orang dari Sulawesi Utara.
B.     Perkembangan Islam di Timor Leste Sampai Sekarang
Semangat Keislaman tetap tumbuh di Timor Leste, walaupun sudah tidak bergabung kedalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, Muslim Timor Leste tetap berusaha meraih hak-hak warga negara di tengah kehidupan negara yang baru pada masa sebelum masa campur tangan PBB. Melalui UNTAET Muslim Timor Leste telah mempersiapakan diri  dengan membentuk Lembaga Islam Timor Leste dengan nama CENCISTIL. CENCISTIL adalah singkatan dari Centro da Comunidade Islâmica de Timor-Leste. Dalam bahasa Indonesianya adalah Pusat Komunitas Islam Timor-Leste. Lebih kurang Islamic Centre of Timor-Leste dalam bahasa Inggris. CENCISTIL didirikan pada tanggal 10 Desember 2000 (sebelum masa UNTAET) di Dili, Timor-Leste.[4] Tujuan utama pendirian CENCISTIL adalah sebagai sebuah wadah pengayomi Umat sebagai satu-satunya corong Suara Komunitas Islam Timor-Leste. Untuk usaha menjawab kesulitan Umat paska kemerdekaan ketika itu, kini dan akan datang. Dengan Misi Utama Menegakkan prinsip-prinsip Al-Qur'an dan Sunnah Nabi Muhammad SAW disamping Memperhatikan undang-undang Negara setempat (Konstitusi Republik Demokrasi Timor Leste).
Dalam rangka mengakomodir Kepentingan Umat Islam Timor Leste baik Internal maupun Ekternal.
VISI CENCISTIL ;
1.      Ingin melahirkan pribadi-pribadi Muslim yang berakhlaqul karimah seperti Nabi Muhammad SAW, cakap, tangguh dan mapan di seluruh aspek kehidupan beragama dan bernegara.
2.      Menjadikan umat Islam layaknya nahl (kehidupan lebah) yang telah diterangkan dalam alQur'an.
3.      CENCISTIL adalah Lembaga Legal umat Islam Timor Leste
4.      CENCISTIL adalah Lembaga Tertinggi Umat Islam Timor Leste
5.      CENCISTIL adalah payung bagi seluruh umat Islam Timor Leste
6.      CENCISTIL adalah payung bagi seluruh ORMAS Islam TimorLeste
7.      CENCISTIL adalah suara umat Islam Timor Leste
MISI CENCISTIL ;
1.      Berjuang merealisasikan kepentingan untuk Umat Islam Timor Leste
2.      Berinteraksi aktif dan intenstif ke Grass Root dan pemerintah
3.      Merealisasikan beasiswa, pemberdayaan ekonomi umat, berjuang menyediakan fasilitas pelatihan-pelatihan, mengsponsor ibadah haji, membela dan meringankan beban kaum lemah, fakir, miskin, yatim, piatu, yatim-piatu, janda, duda, jompo, cacat,
4.      Membawa suara umat Islam Timor Leste ke Nasional dan Internasional
5.      Berdialog dan berinteraksi secara konstruktif dan positif ke non-muslim
6.      Menyediakan semua dokumen resmi Umat Islam Timor
7.      Membantu menyelesaikan masalah umat Timor Leste
8.      Menyediakan kantor dan fasilitas bagi umat Islam di Distrik
9.      dan mendata jumlah umat Islam Timor Leste, fasilitas Islam dan aset-aset potensial umat Timor-Leste
10.  Mengajak investor Islam menanam modal di Timor Leste
11.  Berdiplomasi aktif dengan luar negeri
12.  Menanamkan kesadaran tentang prinsip dasar Islam kepada seluruh Umat Islam Timor Leste.
Keberadaan CENCISTIL lahir sebagai mitra pemerintah dalam pengurusan mengenai kepentingan Umat Islam, sejak didirikan CENCISTIL mendapat subsidi dari pemerintah, namun sejak tahun 2009 subsidi tersebut tidak lagi cair. Dalam urusan keamanan badan aparatur Negara seperti polisi dan intel bekerja sama dengan CENCISTIL dalam mencegah gangguan yang datang dari pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab, dalam hal tempat ibadah misalnya pemerintah menolong CENCISTIL dengan mengawasi pro-kontra pembangunan gedung TPA di Maliana. Presiden dan Wakil Perdana Menteri Republik Demokrasi Timor Leste sangat memerhatikan keberadaan umat Islam di negaranya, terutama dalam hal urusan sosial. Melalui pemerintah, pasal 12 dan 45 dalam Konstitusi Republik Demokrasi Timor Leste menjamin kebebasan beragama di Timor Leste. Selain itu, pemerintah juga menghormati Muslim dengan menjadikan hari-hari besar Islam, seperti Idul Fitri dan Idul Adha sebagai hari libur Nasional. Sedangkan untuk hari besar Maulid Nabi, Isra' Mi'raj, dan 1 Muharram masih diperjuangkan, termasuk waktu istirahat pekerja Muslim pada hari Jumat untuk melaksanakan shalat Jumat.
Perkembangan Muallaf di Timor Leste pada 2011 kemudian tercatat bertambah 500 orang. Jumlah ini terhitung mengingat sedikitnya tenaga Dakwah, 'Alim Ulama, dan Ustadz yang memberikan pembinaan kepada para Muallaf. Meskipun demikian, lembaga-lembaga keislaman dan ahli agama di Timor Leste terus menyebarkan Islam melalui kegiatan-kegiatan di bawah CENCISTIL yang berbentuk kesosialan. Di samping itu, sekolah-sekolah dan sarana belajar lainnya yang berbasis Islam terus didirikan dan dikembangkan demi bertahan dan berkembangnya Islam di negeri ini. Meski sedikit, umat Islam di Timor Leste ini tidak boleh dipandang sebelah mata. Mereka terus berdakwah dan menegakkan syariat Islam meski menjadi minoritas. Walaupun menghadapi tantangan berat karena fasilitas dan jumlah Muslim yang semakin berkurang, semangat untuk menjalankan syariat Islam tidak pernah pudar.


Sekian tentang Sejarah Perkembangan Islam di Negara Negara Asia Tenggara Silahkan dicopas buat hal positif, tanpa merugikan pihak manapun. Lebih teliti lagi, kesalahan itu pasti ada.
Semoga artikel ini menambah pengetahuan kita semua, diharapkan kritik dan saran yang membangun.
silahkan Like dan Share kalo bermanfaat. terimakasih

No comments:

Post a Comment